Sunday, 30 October 2022
MERINDU DIKALA HUJAN
Tuesday, 12 July 2022
BUSTAN BUANA
Menciptakan kisah yang nyata tetapi fana
Memiliki tipu daya paling kuat
Bagi manusia yang tak pernah taat
Penuh teka teki tak tertebak
Menyiapkan jebakan setiap langkah
Labirin kehidupan kian bertikung tajam
Jika tak berhati-hati menginjakkan
Bisa saja jatuh ke dalam jurang penyesalan
Tak ada yang tahu betul nasib di masa depan
Tak ada yang tahu pasti dimana kehidupan kekal berada
Mengharuskan tetap berada dijalur yang benar
Hanya bisa pasrah
Tetap meraungi jalan yang ditetapkan
Berusaha serta bertengadah kepada-Nya
Tentunya untuk kelak sebagai bekal
Temani hidup dimasa kekal
Penulis : Isma Ayu Fasyaroh (Anggota Pers)
Penyunting : Martinah Nafatilopa (Tim Redaksi Pers)
Friday, 8 July 2022
LESUH
Langit tak berkutik sedikit pun
Angin tak lagi menggerakkan dedaunan
Bumi pun tak mau tahu
Semua lesuh tanpa makna
Apa yang kau mau?
Bicaralah wahai semesta!
Kau telah mengurung kami dalam ribuan rindu
Suara kami menggema di berbagai penjuru
Namun kau tak berkutik memedulikan sedikit pun
Apakah kau sedang merajuk?
Merajuk pada kami yang telah berulah
Jika benar begitu
Maka, tunjukkan rasa kasihmu yang kau dapat dari-Nya
Thursday, 30 June 2022
Club Ibukota jor joran dibursa transfer tahun 2020 ini
Jenis-jenis Makna pada Novel Ayahku (bukan) pembohong
Wednesday, 29 June 2022
SEMANTIK RELASI MAKNA: ANAK ANGKAT DURHAKA NISANNYA DILILIT ULAR
Friday, 24 June 2022
KELUH DAN KISAH
Dan tak semua kisah bisa diceritakan
Antara nyata atau hanya bayangan sahaja
Entahlah, daku pun tak bisa mengetahuinya
Fatamorgana...kulihat tengah asik dengan empunya
Ke sana ke mari berlaga seakan sama
Sesal dan sesak bersekongkol rupanya
Menjiwai peran sebagai pemain utama
Nestapaku kian menyapa dalam logika
Serdu, sendu, terbelenggu warna kelabu
Semua berhasil menyatu padu
Kompak datang satu waktu
Tak ada yang bisa berlaku
Selain diam dan membisu
Penulis : Isma Ayu Fasyaroh (Anggota Pers)
Penyunting : Martinah Nafatilopa (Tim Redaksi Pers)
Thursday, 9 June 2022
Ikatan Suci
Menghilangkan jejak tetes embun dedaunan
Nyanyian burung bersenandung dengan alam
Seakan ikut bahagia menyambut pagi ini
Untaian bait akad yang menjadi ikatan suci kita
Kilauan cincin emas melingkar jemari
Air mata mengalir membasahi pipi
Bagai terhanyut dalam mimpi
Segumpal doa-doa di pagi hari
Untukmulah wahai sang suami…
Saat kau menghalalkanku dari orang tua
Di bawah langit cinta ini sudah kita abadikan
Penghibur sedih ku dan laraku
Pelerai cemas dan gelisahku Pengusir lara dan dukaku..
Wahai imam di setiap sujudku
Wahai cinta terakhirku
Wahai tulang rusuku
Engkaulah, cahaya surgaku…
Penulis : Anisa Nurjanah (Anggota Pers)
Penyunting : Martinah Nafatilopa (Tim Redaksi Pers)
Thursday, 2 June 2022
Antara Aku dan Mereka
Ku perhatikan mereka
Betapa luar biasa mereka
Dengan segala keelokannya
Dengan semua kehebatannya
Apa daya diri ini
Yang hanya mampu merenung sepi
Entah apa arti diri ini berada di sini
Yang terpaku dalam sepi
Tak satupun yang menemani
Karena aku tahu
Tapi aku tak sanggup sendiri
Aku benci diselimuti sepi
Tapi aku takut untuk mendekat
Aku takut untuk terbuang sekali lagi
Terpuruk dalam hampa
Tanpa seorang pun yang peduli
Karena aku, tak akan pernah layak
Untuk berada disisi mereka
Penulis : Ibnatul Mawaddah (Anggota Pers)
Penyunting : Martinah Nafatilopa (Tim Redaksi Pers)
Monday, 20 December 2021
Jalan Memetik Impian
Oleh: Ngakidatul Hikmah_BSA’18
“Setiap impian berhak dimiliki semua orang dan untuk seluruh kalangan. Impian bukan untuk diri sendiri melainkan untuk menebar manfaat kepada banyak orang. Impian untuk Allah dan karena Allah. Tak ada yang tidak mungkin asalkan kita mau berusaha dan selalu melibatkan Allah”.
Perkenalkan gadis keturunan ngapak, tepatnya di Kota Kebumen memiliki nama Aisyah Nur Saputri, biasa dipanggil dengan sebutan Aisyah. Nama pemberian orang tua, agar kelak bisa seperti Dewi Aisyah istri baginda Nabi Muhammad SAW. Hadir menjadi aktris didunia dengan skenarioNYA yang penuh makna pada hari jumat manis, 22 September 2000 dari pasangan suami istri Moh. Damami dan Siti Khuriyah. Menjadi adik sekaligus kakak dari saudara laki- lakiku yang bernama Moh. Khoirul Anam dan saudara perempuanku bernama Atini Rodlotul Khulashoh
Sebagai manusia tentu pernah merasa dirinya gagal, dan dirundung nestapa, begitu pula denganku. Namun kita tak bisa terus terpuruk dalam kesedihan dan tak mau mencobanya lagi. Belajar ikhlas menerima kegagalan dan bangkit dari keterpurukan.
"Manusia itu memiliki potensi dan kesempatan yang sama pula. Maka jangan menyerah untuk terus berusaha mendapatkan yang terbaik."
Dulu kata- kata ini terdengar biasa ditelingaku, hanyalah angin yang berhembus melintas dr telinga kanan ke kiri. Pernah aku menyerah karena tak bisa menerima takdir karena tak lolos masuk kategori mahasiswa peraih beasiswa bidikmisi. Beasiswa yang sejak dulu kuimpikan, namun kali ini kugagal memperolehnya. Sedih dan kecewa selalu kurasakan setiap melihat beberapa temanku yang lolos memperoleh beasiswa.
Tepat dihari itu, hari dimana pengumuman muncul dalam salah satu pemberitahuan WA, saat itu juga kumeneteskan air mata, tak sanggup menahannya hingga tak bisa berkata- kata. Hatiku hancur, melebur dalam impian yang sirna. Harapan tuk dapat membantu beban orang tua seakan sirna. Bahkan untuk sekedar memberi tahu hal ini pada ibuku saja seolah tak sanggup bahkan takut jikalau nanti akan membuatnya kecewa.
Kuberanikan menghubungi kedua orang tua lewat handphone, kupencet nomor salah satu tetanggaku, yang mana itu juga termasuk nomor HP bapak ibu. Keluarga kami memang mempunyai dua handphone dan itupun dipegang oleh aku dan kakakku untuk kepentingan belajar. Oleh karena itu, tetanggalah yang menjadi penolong kami disaat kami ingin berbagi kabar.
Aisyah: “Hallo, Assalamu’alaikum…”. (Dengan senyum kuucapkan salam dan kusimpan kesedihan itu rapat- rapat.
Ibu : “Hallo, Wa’alaikumsalam nduk, bagaimana kabarnya?”
Aisyah: “Alkhamdulillah baik bu, ibu bagaimana kabarnya? Aku kangen banget sama kalian”.
Ibu : “Alkhamdulillah, kami juga disini sehat semua sayang. Ehhh bukannya kemarin katanya kamu mau pengumuman yang beasiswa Bidikmisi? Bagaimana hasilnya? (Tersenyum penasaran).
Aisyah: “Ehhh… anu bu…iya kemarin ini baru saja pengumuman, tapi….”(Terbata- bata & berkaca- kaca seolah ingin menangis dipelukan kedua orang tuanya).
Ibu : “ Tapi apa nduk? (Semakin penasaran dan sedikit tegang)
Aisyah:“Tapi saya gagal mendapatkan beasiswa Bidikmisiii..” (dengan nada lirih & menumpahkan air matanya)
Hening beberapa detik…
Ibu :“ Alkhamdulillah nduk, tidak apa- apa. Itu tandanya berarti kita masih termasuk golongan orang yang mampu. Mungkin Allah punya skenario yang unik untuk jalan cerita film kehidupan kita. Tetaplah bersyukur, dan jangan patah semangat, toh masih banyak kesempatan beasiswa yang bisa kamu dapatkan”. (Berusaha tenang menanggapinya)
Aisyah: “Iya sih bu, tapi aku kasihan sama kalian. Pasti setelah ini akan keluar lebih banyak lagi keringat perjuangan kalian untuk membiayai kami. Kami tak sanggup melihatmu pak, bu…”. (Menangis sesenggukan sambil mengusap air mata yang jatuh bah air terjun)
Ibu : “Oh, kalau itu tak usah dipikirkan lagi nduk, itu memang sudah menjadi tugas kami sebagai orang tua. Yang terpenting sekarang kamu mengaji dan kuliah yang bener. Doakan bapak ibu agar selalu diberi kekuatan menjalaninya. Semangat terus ya…
Aiysah: “Iya bu, terima kasih untuk doanya, insyaAllah aku disini akan selalu semangat”. (Sedikit lega dan tenang perasaannya)
Ibu :“Sudah dulu ya, nggak enak sama tetangga kalau kelamaan. Assalamu’alaikum ”. (Mengakhiri pembicaraan dan menutup telephone).
Aisyah : “Iya bu, wa’alaikumsalam Wr. Wb”. (Bangkit dan sedikit tersenyum)
Sangat berat bagi mereka tuk memikul beban ini, bekerja setiap hari , menjadi buruh di sawah orang yang hanya digaji tak seberapa. Namun ibuku selalu berkata pada kami bahwa “ Saiki wayaeh nandur, ngisuk bakale ngunduh hasile (sekarang waktunya menanam, insyaAllah suatu saat akan memetik hasilnya”. Meski mereka tak berpendidikan sampai sarjana, namun semangatnya sangatlah tinggi agar kami bisa mengaji dan kuliah dengan harapan kelak nasib anak- anaknya tak seperti dirinya.
Sebagai mahasiswa aku tidak meminta macam-macam, yang terpenting UKT uang bulanan pondokku terbayarkan itu sudah lebih dari cukup bagiku. Selain itu, impian untuk mempunyai laptop adalah salah satu keinginan terbesarku. Malu rasanya ingin merengek seperti anak kecil dan meminta untuk dibelikan laptop. Sering aku membayangkan betapa enaknya bisa mengerjakan tugas tanpa dihantui sang pemiliknya utk segera mengembalikan laptopnya. Sudah 4 semester ini, aku hanya bisa meminjam. Dan yang namanya mahasiswa, tentu laptop adalah mutiara berharga untuk mengerjakan tugas, makalah, power point, laporan dan lain- lain.
Beberapa beasiswa telah aku coba, namun semuanya masih menunjukan bahwa aku belum lolos, sampai- sampai aku hampir putus asa dan malu karena sudah minta doa restu sama mereka, tapi hasilnya masih kosong. Aku sadar, bahwa sesuatu itu butuh perjuangan dan doa yang lebih kuat lagi. Selalu berjuang dan nikmati prosesnya, mencari dan terus berusaha mencoba berbagai pendaftaran beasiswa yang disediakan dari kampuku IAIN Salatiga.
”Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu tetapi baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu tetapi ia buruk bagimu, dan Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahuinya,” (QS. AL- Baqarah: 216).
Ayat yang membuatku seolah tertampar atas semua pikiranku padaMu yang selalu menganggapMu tidak adil kepada setiap hambaNya. Bahkan aku sering kali marah, kecewa, sedih, ngomel dan berakhir dengan kata “putus asa”, padahal apapun hal- hal yang terjadi dan tidak aku sukai itu yang nantinya malah baik bagiku nanti, astaghfirullah maafkan hamba ya Allah…batinku dalam hati.
Hari- hari kujalani dengan ikhlas, jalan kaki kekampus menjadi alternatifku saat itu. Selain agar sehat karena berolahraga juga biar bisa menghemat, uang Rp 4000,00 bolak balik dapat kutabung agar tak s ering meminta uang pada orang tua. Pernah suatu hari, disaat aku pulang ke rumah ibuku pernah bertanya tentang beasiswa.
Ibu : “ Pie nduk wis ono beasiswa meneh po durung? (Bagaimana sayang, apa sudah ada beasiswa lagi? )” aku hanya bisa terdiam dan menunduk, tak sanggup mata ini tuk menatap wajah ibuku yang begitu mengharapkan hal itu.
Aisyah : “Dereng bu, wingi mpun njajal tapi tesih gagal, mangke nek onten beasiswa malih kulo tak daftar bu (Belum bu, kemarin sudah mencoba daftar tapi gagal lagi, nanti kalau sudah ada info dari kampus akan saya coba lagi”.
Semenjak itu aku selalu memantau dimana ada lowongan beasiswa, disitu pokoknya aku harus ikut daftar. Hingga pada saat itu aku mendengar salah satu dari temanku bahwa di kampus lagi ada pembukaan Beasiswa Kajian Keislaman, beasiswa bersifat umum dan utk semua jurusan. Meski kuota hanya membutuhkan 30 mahasiswa, sangat kecil pula kemungkinan untuk aku dapatkan, namun kesempatan hanya datang sekali dalam seumur hidup& mencoba adalah hal yang terbaik agar kau mengetahuinya.
“Alkhamdulullah akhirnya ada beasiswa lagi, pokoknya aku harus mencoba mendaftar. Kali ini insyaAllah aku bisa mendapatkannya, bismillah allahumma sholi ‘ala sayyidina muhammad”, gumamku dalam hati.
Saat itu juga aku langsung mencari hal- hal serta persyaratan apa saja yang dibutuhkan tuk bisa mendapat beasiswa itu, salah satunya adalah meminta surat domosili dari pondok. Betapa terkejutnya waktu itu, saat salah satu pengurus pondok bicara padaku.
Pengurus: “Dek, mau buat persyaratan beasiswa ya? (tanyanya sambil menyodorkan kertas kecil agar aku segera menulis nama dan jurusan).
Aqid : Iya, doakan ya mb semoga berhasil, memangnya kenapa?
Pengurus: Aamiin, semoga ini menjadi rezekimu dek. Soalnya ini yang meminta surat domisili juga banyak banget nih”.(sambil memperlihatkan tumpukan kertas yang tertera keterangan SURAT DOMISILI)
Aku terkejut bukan main, hampir kebanyakan santri ikut beasiswa ini dan meminta surat yang sama sepertiku, namun aku tetap tak pantang menyerah dan terus berusaha tuk melengkapi beberapa berkas yang diharapkan.
Semua berkas aku persiapkan dan kuteliti agar tak ada sedikitpun yang kurang atau terlewatkan, tak lupa juga membuat motivation letter tentang data diriku dan bagaiman kondisi keluargaku saat ini. Untaian kata kurangkai menjadi kalimat hingga akhirnya menghasilkan beberapa macam paragraph yang insyaAllah sudah menjadi motivation letter terbagus menurutku. Kuuploud semua berkas dengan dibantu sobatku yang bernama Aulia, masuk kelink yang tersedia dan kukirimkan dengan mengeklik kata KIRIM…. Finish, Alkhamdulullah.
Menunggu adalah hal yang membosankan, tetapi menunggu kali ini membuat hatiku berdebar tak sabar tuk melihat pengumuman itu. Aku pernah mendengar motivasi dari Wirda Salamah Ulya Mansur, putri Ustadz Yusuf Mansur dan seorang penghafal Al-Qur’an, pendakwah, pengusaha, sekaligus penulis muda dimana dia pernah mengatakan kata yang membuat hatiku tergugah dan tersadar.
“Perbanyaklah bersholawat, sehari 100 kali atau berapa lah dan sebutin apa saja yang menjadi hajatmu serta berdoalah dan pasrahkan semuanya ke Allah. Niscaya hajatmua akan terkabul”.
Ya mantra ini yang aku coba, membaca shalawat sebanyak mungkin dan berdoa sehabis shalat. Pasrah pada sang pencipta dan menyerahkan hasil kepadanya. Setidaknya kita mau berusaha, tinggal menunggu semoga doa kita terdengar dan dikabulkan. Karena taka da yang tak mungkin bagi Allah SWT, tinggal bagaimana kita meyakini dan ikhlas lillahi ta’ala.
Hari yang ditunggu- tunggu akhirnya datang juga, namun masih belum ada pengumuman di siakad ataupun pemberitahuan di Grup Lintas Literasi, grup yang berisi mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab serta semua Dosen BSA. “Ah mungkin bukan hari ini deh pengumumannya deh”, gumamku dalam hati.
Karena terlalu bingung memikirkan, aku melanjutkan tugasku mengerjakan makalah untuk persentasi besok dan alangkah terkejutnya saat tiba- tiba Anis tetangga kamarku memberi tahu bahwa aku menjadi salah satu mahasiswa yang memperoleh Beasiswa Studi Kajian Keislaman.
Anis : “Mba udah buka pengumunan beasiswa belum?”. (Tanyanya sambil masih mengutak atik handphonenya).
Aisyah: “Belum dek, emang siapa saja nama- nama yang diterima?” (deg-degan dan takut melihat kenyataan kalau missal tak diterima lagi).
Anis: “Coba bentar, kayaknya tadi ada namanya mba terpapang deh. (Melihat sambil meneliti lagi pengumunan yang ia lihat).
Aisyah: “ Mana nis, coba aku pengin lihat”. (Mendekati Anis sambil berdebar hatiku tak karuan).
Sontak aku merasa kaget dan bersyukur, Antara percaya dan tidak, bagaimana tidak, banyak sekali tidak hanya puluhan yang mendaftar namun ratusan dan Alkhamdulillah aku salah satunya.
Sinta : “Kenapa, kok kamu nangis?” (Penasaran, dan menatapku dalam).
Aisyah: “Aku bahagia dan terharu banget Sin, aku lolos mendapat beasiswa”. (Akupun jatuh kepelukannya sambil menangis sesenggukan masih tak menyangka).
Sinta : “Alkhamdulillah, ini keberuntunganmu sobat, selamat ya. Allah SWT memang telah menyiampakan hadiah yang terindah untuk hambanya yang selalu sabar dan nggak pantang menyerah sepertimu. (Mengelus- elus pundak, sambil mengusap air mata bahagiaku).
Hari ini adalah hari yang berharga bagiku, mengingat dulu aq pernah menangis karena tak lolos beasiswa dan kini Allah menggantinya dengan lebih baik dari itu.
“Alkhamdulillah akhirnya aku bisa membeli laptop juga” ucapku menahan haru karena bahagia.
Dunia seakan memeluk erat tubuhku, mendekap dengan hangat dan mengatakan kamu berhasil Aisyah, menggandeng tanganku menuju jalan memetik impian. Apa yang kuinginkan dulu memang tak bisa aku dapatkan, namun sesuatu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya seolah kini telah berada didepan mataku. Terima kasih pak, bu, kak, dek, telah mendoakanku sehingga bisa sampai dalam tahap ini, alkhamdulillah.
“Berpikirlah yang positif, lakukan dan jalani semuanya dengan ikhlas, insyaAllah semuanya akan terasa indah”.
Sunday, 19 December 2021
“SAAT NURANI MENGGUGAT”
Oleh: Putri Nani_IH’20
“kring,,,kring,,,kring,,,”. Bel tanda masuk setelah istirahat kedua berteriak nyaring memberi tanda kepada kami bahwa saat bermain telah usai. Bunyi bel yang persis seperti bunyi bel sepeda yang biasa ku kendarai saat berangkat dan pulang sekolah itu menggerakanku dan beberapa temanku untuk bergegas dan melesat ke kelas kami masing – masing. Ku lihat beberapa teman sekelasku masih ada yang mengunyah tempe gorengnya, ada yang masih menyedot estehnya, dan beberapa yang lain sudah mulai menyiapkan diri menerima pelajaran ke-7 yaitu IPS.
Tak lama kemudian Pak Son guru IPS kami, memasuki kelasku. Teman-temanku yang belum menyelesaikan makanan dan minumannya, secara reflek memasukan jajan dan minumannya ke laci mereka. Pak Son menyapa kami dengan ucapan salam yang langsung di jawab serentak oleh teman-teman di kelasku. Pelajaran pun di mulai. Kami mendengarkan ceramah dari Pak Son kurang lebih selama 60 menit. Menjelang pulang, Pak Son mengumumkan bahwa besok pagi beliau akan mengadakan ulangan harian. Beberapa anak mulai ribut. Astri bertanya, “Materinya dari bab berapa sampai bab berapa Pak?” Pak Son menjawab “Materinya dari bab 1 sampai bab 3 di tambah latihan soal yang ada di buku LKS (Lembar Kerja Siswa), okay?” semua siswa menjawab serentak dengan wajah lesu “Baik, Pak!”. Setelah itu, berapa anak mulai kasak-kusuk sibuk mengeluh tentang banyaknya materi yang harus mereka pelajari nanti malam.
Tiba – tiba saat kelas masih ribut, lagu “Gelang Sipaku Gelang” mulai berkumandang dan menghentikan keributan di kelasku. “Sebelum pulang, mari kita akhiri pelajaran hari ini dengan do’a terlebih dahulu!” perintah Pak Son. Aku segera berkemas, ku masukkan semua peralatan sekolahku ke dalam tas, ku lihat sekelilingku. Tampaknya teman yang lain pun melakukan hal yang serupa denganku. Dalam hitungan beberapa menit, semuanya sudah siap untuk pulang. “Siap, grak. Berdoa mulai!” ujar ketua kelas memberi aba-aba berdoa. Kami pun serentak menundukkan kepala, mengucapkan doa kami masing-masing. “Selesai, memberi salam!” perintah ketua kelas. Kami mengucapkan salam secara serempak. Pak Son membalas salam kami, setelah Pak Son meninggalkan kelas kami, kami langsung menghambur bagai kelereng di lontarkan dari tempat penyimpanannya. Ada yang melesat bagai anak panah di tembakkan dari busurnya, ada yang berjalan biasa-biasa saja sambil ngobrol dengan temannya, ada yang berjalan gontai tanpa semangat.
“Put, pulang bareng yuk!” ajak Sindi sahabat baikku, saat kami mengambil sepeda di tempat parkiran. “Ayuk!” sahutku. Kami mengendarai sepeda bersisian. Kebetulan rumahku dan rumah Sindi satu jalur.
Sepanjang jalan pulang, aku tak banyak bicara. Pikiranku berkelindan kesana kemari. Aku memikirkan ulangan IPS besok pagi dan memikirkan kedua orang tuaku yang sibuk bertengkar setiap hari. Dalam hati aku berkata, “Dapatkah nanti malam aku belajar dengan tenang?”. Meski pikiranku melayang-layang, aku dapat merasakan bahwa sesekali Sindi melirik ke arahku. Aku yakin dia ingin menanyakan kenapa aku diam saja, apa yang aku pikirkan, dan sebagainya. Tapi, aku sedang tak ingin bicara. Rupanya Sindi dapat memahami situasiku. Dia urung bertanya ini itu.
Setelah 10 menit ku kayuh sepedaku. Aku berpisah jalan dengan Sindi karena aku sudah sampai di rumah. Aku mealambai kepada Sindi yang terus mengayuh sepedanya.
“Assalamu’alaikum” ucapku saat masuk rumah. Aku tidak menyangka salamku di jawab dengan kompak oleh Ayah dan Ibuku yang sedang duduk-duduk di ruang tamu. Dalam hati aku berkata sinis, “Kalian tidak bisa membohongi anakmu ini, Ayah, Ibu. Putri sudah tau yang sebenarnya. Setiap malam kalian selalu bertengkar. Kalian pikir, Putri tidak mendengarkan pertengkaran itu?”
Aku menyembunyikan perasaan sedihku di sudut hatiku yang terdalam. Di hadapan mereka aku selalu mencoba untuk tersenyum. Ku salami keduanya dan kucium tangan keduanya. Tanpa banyak bicara, aku segera menuju ke kamarku untuk berganti pakaian, ambil air wudhu, dan ku temui Tuhanku. Satu – satunya Dzat tempatku bersandar dan berkeluh kesah.
“Tok,,,tok,,,tok,,,” Tiba – tiba pintu kamarku diketuk orang. Aku tahu itu pasti Ibuku. “Masuk Bu, tidak ku kunci!” jawabku. Ku buka mukena putih berenda bunga – bunga yang membalut tubuhku. Ku usap air bening yang keluar dari sudut – sudut mataku. Ibuku membawakan sepiring nasi goreng untukku. “Makan dulu put!” kata Ibuku dengan membaca raut wajahku. “Kamu memangis? Ada apa?” tanya Ibuku. “Apa benar yang dikatakan Ayah semalam Bu?” tanyaku dengan menatap wajah Ibuku. Tak terasa air mata yang sejak tahu sudah ku tahan, kini jebol tak dapat ku kendalikan. Ku lihat Ibuku kaget. “Jadi, kamu sudah tahu Put?” tanya Ibu. “Kenapa Bu? Apa kalian tidak sayang sama Putri? Kenapa kalian tega memtuskan untuk berpisah?” tanyaku dengan tesedu – sedu. Ibu memelukku erat – erat. Aku merasakan bahwa di dalam dadanya juga ada gemuruh yang tak tertahankan. “Itu sudah keputusan Ayahmu, Put. Ibu tidak bisa berbuat apa – apa lagi. Ibu hanya perempuan, Nak. Ibu tak kuasa mencegah Ayahmu untuk tetap berada di sisi Ibu. Maafkan Ibu. Sekarang terserah Putri, Putri mau tinggal bersama Ibu atau Ayah.” jelas Ibuku dengan raut muka yang tak bisa ku gambarkan. Ibu melepaskan pelukkanya dan meninggalkan kamarku. Ku tatap nasi goreng yang di letakkan Ibu di atas meja belajarku. Aku tak berminat menyentuhnya, apalagi memakannya.
***
Malam ini putri menceritakan keluh kesahnya padaku, katanya besok ada ulangan IPS, tapi dia tak bisa belajar dengan tenang. Otaknya kacau sebab memikirkan masalah yang di hadapi kedua orang tuanya. Pikirannya buntu, bagaikan got di depan rumahnya yang tersumbat bermacam – macam sampah. Hatinya keruh, sekeruh air sungai.
Melalui tinta biru yang di goreskan di lembaran-lembaran tubuhku. Putri mencurahkan semua unek-unek yang ada di hatinya. Putri bingung kalau benar kedua orang tuanya hendak bercerai. Putri tidak dapat memilih mau ikut Ayah atau Ibunya. Putri sangat menyayangi keduanya dan tak ingin berpisah dengan mereka. Putri hanya ingin bersama Ayah dan Ibunya. Bukan bersama Ayah atau Ibunya.
“Ya Allah? Bagaimana ini? Aku harus ikut siapa?, sedangkan aku sangat menyayangi mereka. Aku tak ingin berpisah dengan keduanya”. Tulis putri pada lembaran – lembaran tubuhku. Aku ikut sedih, tapi aku tidak dapat membantu apa – apa selain hanya menampung segala keluh kesah yang di rasakan putri. Aku hanya bisa berharap setelah perasaanya di luapkan kepadaku, putri mendapat ketenangan. Tapi, sepertinya aku salah, setelah meluapkan perasaanya, putri langsung meninggalkanku begitu saja tanpa menutupku. Ia langsung naik ke tempat tidurnya dan mulai menangis lagi.
Sepanjang malam yang di lakukan putri hanya menangis dan menangis sampai dia kelelahan dan terlelap. Aku ingin sekali mengingatkan putri agar jangan menangis terus. Ingat put, besok ada ulangan IPS. Tapi, apa dayaku. Aku tak bisa bersuara.
***
“Allahuakbar,,,Allahuakbar” suara adzan dari mushola dekat rumahku membangunkan aku dari tidur nyenyakku. Mataku terasa berat, samar – samar , aku masih ingat bahwa semalaman aku menangis. Tiba – tiba aku tersentak. Hari ini ada ulangan IPS. Bagaimana ini. Aku tidak belajar sama sekali. Segera ku lipat selimutku. Aku bergegas untuk mandi dan mengambil air wudhu kemudian sholat subuh dua rakaat yang tidak dapat ku nikmati sama sekali. Setelah salam, aku buka sebentar catatan IPSku. Caraku belajar pagi ini meloncat – loncat seperti katak. Sebentar ke catatan, sebentar ke LKS, tapi tidak ada yang masuk ke dalam otakku.
Waktu cepat sekali berlalu, tanpa terasa jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul 06.30. ulangan akan di adakan jam pertama pula. Ups! Ya Allah, apa dayaku? Bagaimana ini? Haruskah aku menyontek saja? Masa iya sih, putri yang selalu mendapat peringkat 1 di kelas menyontek? Aku belum pernah menyontek sebelumnya. Tapi, bagaimana ini? Menyontek jelas bukan perbuatan terpuji, curang! Tapi, bagaimana kalau tidak menyontek? Nilaiku bisa tidak tuntas dan aku takut nilaiku tidak mencapai batas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) untuk mapel IPS. Ah… entahlah, yang paling penting sarapan dulu kemudian pancal pedal sepeda. “what,,,will,,,do,,,will,,,do” senandungku menirukan sebuah lagu. Aku berpura – pura riang saja pagi ini agar mood belajarku tidak terganggu.
Aku memasuki gerbang sekolahku pukul tujuh kurang sepuluh menit. Ku hitung ada 10 anak yang masuk gerbang bersamaan waktunya denganku, kami turun dari sepeda kami masing – masing. Ku lihat Bapak Ibu guru sudah menunggu kedatangan kami di pintu gerbang. Kami pun menghampiri dan menyalami Bapak Ibu guru yang ada disitu. “Selamat pagi Bu Ami, Pak Bani?” sapaku sambil mencium punggung tangan mereka. “Pagi” jawab mereka serempak. Dalam hitungan detik aku sudah memarkirkan sepedaku di tempat parkir sepeda di bagian belakang kelasku.
Baru saja ku hempaskan pantatku di kursi belajarku, bel tanda masuk sudah terdengar. Selanjutnya ada suara merdu mengingatkan kami “Saatnya jam pertama di mulai”. Disusul dengan peringatan dalam bahasa inggris. “It’s time to become the first lesson”. Aku tak terlalu pintar dalam bahasa inggris tapi setidaknya itu yang ku dengar dan yang dapat ku ceritakan disini. Pak Son memasuki kelasku. Kehadiran Pak Son membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Seperti biasa ucapan salam Pak Son di jawab serentak oleh seluruh anak di kelasku. Setelah berdoa mengawali kegiatan belajar pagi ini, Pak Son langsung membagikan soal ulangan harian kepada kami.
“Uh,,,” keluhku sambil membaca soal – soal yang tersaji dihadapanku. Semua temanku ku lihat asyik mengerjakan soal – soal itu. Aku masih seperti orang linglung. Aku mulai membaca situasi tengok kanan, tengok kiri, lihat depan, lihat belakang untuk memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang memperhatikan aku. Dengan tangan gemetar dan jantung yang berdebar – debar. Aku mulai menarik catatan IPSku yang ku letakkan di laci mejaku. Bagaikan seorang pendekar, aku berhasil membabat habis soal demi soal yang menjadi musuh – musuhku hari ini. Akhirnya, semua dapat ku selesaikan dengan benar dalam tempo yang sesingkat – singkatnya. Segera ku masukkan lagi catatan IPSku ke laci mejaku. Tiba – tiba aku dikagetkan oleh sebuah suara “Sudah selesai, put?” itu suara Pak Son. Dengan gagap aku menjawab “Ssssudah, Pak”. Pak Son melanjutkan inspeksinya ke lorong meja yang lain. “Uh, hampir saja,” kataku.
Tina kaget mendengar jawabanku. “Sudah selesai put?” tegasnya tak percaya, aku mengangguk “wah, hebat kamu” ujar Tina. Sekarang jantungku malah mau meloncat, kadang ku rasakan di tempatnya, kadang kurasakan menghilang. Dalam bahasa Ibuku saat ini hatiku sedang “Runtag” aku takut kalau – kalau Tina tahu yang sebenarnya tejadi. Sungguh ini pengalaman pertamaku berbuat curang seperti ini. Ohh,,, Tuhan, apakah yang saat ini ku rasakan tercetak jelas dalam ekspresi wajahku?
***
Lagi – lagi malam ini putri menceritakan keluh kesahnya padaku. Namun, keluhannya kali ini bukan tentang “Aku harus ikut siapa?”. Dia menceritakan perbuatan konyolnya yang dilakukannya hari ini di sekolah. Oh no! Rasanya aku tak percaya. Ini benar – benar konyol. Putri bilang tadi dia nyontek di sekolah. “Tidak ada pilihan lain Di, aku takut nilaiku jeblok. Aku takut nilaiku tidak mencapai KKM, jadi terpaksa aku menyontek Di” katanya padaku melalui tinta biru yang digoreskannya di lembaran – lembaran tubuhku (Putri sering memanggil namaku “Di” meski kadang dia menyebut nama lengkapku “Diary”) “Di, aku tak tenang” lanjutnya.
Tentu saja aku bisa merasakan apa yang sedang Putri rasakan. Hatinya pasti was – was. Aku ingin menasihatinya agar lain kali jangan nyontek lagi. “Putri, apakah dengan mendapatkan nilai di atas KKM kamu akan senang? Nyatanya tidak kan? Kamu mungkin berpikir bahwa tidak ada satu temanmu pun yang mengetahui perbuatan licikmu itu. Tapi, kamu harus ingat Put, ada dua malaikat yang di tugasi Allah untuk selalu mengawasimu”. Tentu saja Putri tidak bisa mendengar nasihatku. Aku berharap nuraninya memberinya sebuah alarm untuk mengingatkan perbuatan salahnya itu.
***
Benar. Aku tak tenang. Hatiku selalu was – was. Jangan – jangan ada yang melihatku. Harus ku bacakah surah An – Nas untuk menghilangkan was – wasku? Huf, ternyata menyontek itu tidak membuat kita senang. Ternyata berbuat curang itu membuatku gelisah. Ternyata tidak jujur itu membuatku resah. Ya Allah, ampuni aku. Nuraniku mulai memusuhi perbuatan yang tidak terpuji itu. Aku niat akan membuat pengakuan besok pagi kepada Pak Son.
Di sekolah, Pak Son mengumumkan hasil ulangan harian dua hari lalu yang sudah di koreksi. Dengan bangga, Pak Son mengumumkan bahwa aku, putri satu – satunya siswa yang mendapat nila 100 dalam ulangan harian kali ini. Beliau memberi ucapan selamat. Teman – teman sekelasku bertepuk tangan. Entah kenapa aku tidak senang sama sekali. Aku sama sekali tidak bangga. Bahkan tanpa ku sadari butiran – butiran air bening asin mulai meluncur dari sudut – sudut mataku. Semua mengira air mataku air mata bahagia. Bukan kawan, ini air mata rasa malu dan air mata rasa bersalah. Malu aku kepada Al – Alim Yang Maha Mengetahui dan Al – Bashir Yang Maha Melihat.
Saat istirahat pertama, aku menemui Pak Son di ruang guru. Dengan terbata – bata, aku menceritakan tentang sejarah nilai 100 yang kudapatkan dalam ulangan harian dua hari lalu. Pak Son menyimak ceritaku. Beliau tidak marah.
“Bapak senang kamu jujur Put, kamu nanti ikut ulangan perbaikan hari sabtu nanti ya! Persiapkan dirimu!” kata Pak Son. Aku hanya mengangguk. Aku janji kali ini aku akan belajar dengan baik.
***
Ini cerita putri padaku, katanya dia mendapat nilai 100 untuk hasil meyonteknya. Amazing kan?. Tapi, apa hebatnya nila 100 hasil nyontek? Ah…, untung pada akhirnya putri menyadari bahwa perbuatannya itu salah. Dia diberi kesempatan oleh gurunya untuk mengikuti ulangan perbaikan. Katanya dia mendapat nilai 80 dalam ulangan perbaikan itu setelah semalaman belajar habis – habisan.
“Di, ternyata kecurangan tidak akan membuat kita senang, dan akan membuat kita selalu was – was karena terus di kejar bayangan dosa. Dan satu lagi, ternyata kejujuran meski kadang menyakitkan dan memalukan jauh lebih baik daripada curang”.
Aku bahagia melihat putri terus tersenyum saat menggoreskan kalimat hikmah yang dia dapatkan dari pengalamannya hari ini.
Andai bisa kau dengar put. Aku akan mengatakan bahwa kepuasan itu terletak pada usaha. Bukan pada hasil. Berusaha dengan keras adalah kemenangan yang haqiqi. Jangan lupa selalu berdoa pada Allah Yang Maha Kuasa agar kedua orang tuamu rujuk lagi. Kalian bertiga bahagia selamanya. “Kamu dengar apa kataku, Put?”
Ku biarkan lembaran – lembaran tubuhku terbuka. Aku, buku harianmu. Selalu siap menerima dan mendengarkan curhatmu.
TAMAT
Kegiatan Rutin Khotmil Qur'an Di Lingkungan Kampus 2 UIN Salatiga
Salatiga- Selasa pagi, tanggal 25 Febuari 2025, Masjid At-Thoyyar yang terletak di kampus 2 UIN Salatiga ramai dengan antusias mahasiswa un...
-
Salatiga- Selasa pagi, tanggal 25 Febuari 2025, Masjid At-Thoyyar yang terletak di kampus 2 UIN Salatiga ramai dengan antusias mahasiswa un...
-
Buket Bunga Wisuda, sebagai Simbol Ucapan “Selamat Wisuda!” oleh Zagita Aisha Asmarany Wisuda, sebuah peristiwa ber...

.jpg)


