Showing posts with label Cerpen/Cerbung. Show all posts
Showing posts with label Cerpen/Cerbung. Show all posts

Monday, 20 December 2021

Jalan Memetik Impian

 Oleh: Ngakidatul Hikmah_BSA’18


“Setiap impian berhak dimiliki semua orang dan untuk seluruh kalangan. Impian bukan untuk diri sendiri melainkan untuk menebar manfaat kepada banyak orang. Impian untuk Allah dan karena Allah. Tak ada yang tidak mungkin asalkan kita mau berusaha dan selalu melibatkan Allah”.

Perkenalkan gadis keturunan ngapak, tepatnya di Kota Kebumen memiliki nama Aisyah Nur Saputri, biasa dipanggil dengan sebutan Aisyah. Nama pemberian orang tua, agar kelak bisa seperti Dewi Aisyah istri baginda Nabi Muhammad SAW. Hadir menjadi aktris didunia dengan skenarioNYA yang penuh makna pada hari jumat manis, 22 September 2000 dari pasangan suami istri Moh. Damami dan Siti Khuriyah. Menjadi adik sekaligus kakak dari saudara laki- lakiku yang bernama Moh. Khoirul Anam dan saudara perempuanku bernama Atini Rodlotul Khulashoh

Sebagai manusia tentu pernah merasa dirinya gagal, dan dirundung nestapa, begitu pula denganku. Namun kita tak bisa terus terpuruk dalam kesedihan dan tak mau mencobanya lagi. Belajar ikhlas menerima kegagalan dan bangkit dari keterpurukan.

"Manusia itu memiliki potensi dan kesempatan yang sama pula. Maka jangan menyerah untuk terus berusaha mendapatkan yang terbaik."

 Dulu kata- kata ini terdengar biasa ditelingaku, hanyalah angin yang berhembus melintas dr telinga kanan ke kiri. Pernah aku menyerah karena tak bisa menerima takdir karena tak lolos masuk kategori mahasiswa peraih beasiswa bidikmisi. Beasiswa yang sejak dulu kuimpikan, namun kali ini kugagal memperolehnya. Sedih dan kecewa selalu kurasakan setiap melihat beberapa temanku yang lolos memperoleh beasiswa.

Tepat dihari itu, hari dimana pengumuman muncul dalam salah satu pemberitahuan WA, saat itu juga kumeneteskan air mata, tak sanggup menahannya hingga tak bisa berkata- kata. Hatiku hancur, melebur dalam impian yang sirna. Harapan tuk dapat membantu beban orang tua seakan sirna. Bahkan untuk sekedar memberi tahu hal ini pada ibuku saja seolah tak sanggup bahkan takut jikalau nanti akan membuatnya kecewa. 

Kuberanikan menghubungi kedua orang tua lewat handphone, kupencet nomor salah satu tetanggaku, yang mana itu juga termasuk nomor HP bapak ibu. Keluarga kami memang mempunyai dua handphone dan itupun dipegang oleh aku dan kakakku untuk kepentingan belajar. Oleh karena itu, tetanggalah yang menjadi penolong kami disaat kami ingin berbagi kabar. 

Aisyah: “Hallo, Assalamu’alaikum…”. (Dengan senyum kuucapkan salam dan kusimpan kesedihan itu rapat- rapat.

Ibu : “Hallo, Wa’alaikumsalam nduk, bagaimana kabarnya?”

Aisyah: “Alkhamdulillah baik bu, ibu bagaimana kabarnya? Aku kangen banget sama kalian”.

Ibu : “Alkhamdulillah, kami juga disini sehat semua sayang. Ehhh bukannya kemarin katanya kamu mau pengumuman yang beasiswa Bidikmisi? Bagaimana hasilnya? (Tersenyum penasaran).

Aisyah: “Ehhh… anu bu…iya kemarin ini baru saja pengumuman, tapi….”(Terbata- bata & berkaca- kaca seolah ingin menangis dipelukan kedua orang tuanya).

  Ibu : “ Tapi apa nduk? (Semakin penasaran dan sedikit tegang)

  Aisyah:“Tapi saya gagal mendapatkan beasiswa Bidikmisiii..” (dengan nada lirih & menumpahkan air matanya)

 

Hening beberapa detik…


  Ibu :“ Alkhamdulillah nduk, tidak apa- apa. Itu tandanya berarti kita masih termasuk golongan orang yang mampu. Mungkin Allah punya skenario yang unik untuk jalan cerita film kehidupan kita. Tetaplah bersyukur, dan jangan patah semangat, toh masih banyak kesempatan beasiswa yang bisa kamu dapatkan”. (Berusaha tenang menanggapinya)

  Aisyah: “Iya sih bu, tapi aku kasihan sama kalian. Pasti setelah ini akan keluar lebih banyak lagi keringat perjuangan kalian untuk membiayai kami. Kami tak sanggup melihatmu pak, bu…”. (Menangis sesenggukan sambil mengusap air mata yang jatuh bah air terjun)

Ibu : “Oh, kalau itu tak usah dipikirkan lagi nduk, itu memang sudah menjadi tugas kami sebagai orang tua. Yang terpenting sekarang kamu mengaji dan kuliah yang bener. Doakan bapak ibu agar selalu diberi kekuatan menjalaninya. Semangat terus ya…

Aiysah: “Iya bu, terima kasih untuk doanya, insyaAllah aku disini akan selalu semangat”. (Sedikit lega dan tenang perasaannya)

Ibu :“Sudah dulu ya, nggak enak sama tetangga kalau kelamaan. Assalamu’alaikum ”. (Mengakhiri pembicaraan dan menutup telephone).

Aisyah : “Iya bu, wa’alaikumsalam Wr. Wb”. (Bangkit dan sedikit tersenyum)

Sangat berat bagi mereka tuk memikul beban ini, bekerja setiap hari , menjadi buruh di sawah orang yang hanya digaji tak seberapa. Namun ibuku selalu berkata pada kami bahwa “ Saiki wayaeh nandur, ngisuk bakale ngunduh hasile (sekarang waktunya menanam, insyaAllah suatu saat akan memetik hasilnya”. Meski mereka tak berpendidikan sampai sarjana, namun semangatnya sangatlah tinggi agar kami bisa mengaji dan kuliah dengan harapan kelak nasib anak- anaknya tak seperti dirinya.

Sebagai mahasiswa aku tidak meminta macam-macam, yang terpenting UKT uang bulanan pondokku terbayarkan itu sudah lebih dari cukup bagiku. Selain itu, impian untuk mempunyai laptop adalah salah satu keinginan terbesarku. Malu rasanya ingin merengek seperti anak kecil dan meminta untuk dibelikan laptop. Sering aku membayangkan betapa enaknya bisa mengerjakan tugas tanpa dihantui sang pemiliknya utk segera mengembalikan laptopnya. Sudah 4 semester ini, aku hanya bisa meminjam. Dan yang namanya mahasiswa, tentu laptop adalah mutiara berharga untuk mengerjakan tugas, makalah, power point, laporan dan lain- lain.

Beberapa beasiswa telah aku coba, namun semuanya masih menunjukan bahwa aku belum lolos, sampai- sampai aku hampir putus asa dan malu karena sudah minta doa restu sama mereka, tapi hasilnya masih kosong. Aku sadar, bahwa sesuatu itu butuh perjuangan dan doa yang lebih kuat lagi. Selalu berjuang dan nikmati prosesnya, mencari dan terus berusaha mencoba berbagai pendaftaran beasiswa yang disediakan dari kampuku IAIN Salatiga.

”Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu tetapi baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu tetapi ia buruk bagimu, dan Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahuinya,” (QS. AL- Baqarah: 216). 

Ayat yang membuatku seolah tertampar atas semua pikiranku padaMu yang selalu menganggapMu tidak adil kepada setiap hambaNya. Bahkan aku sering kali marah, kecewa, sedih, ngomel dan berakhir dengan kata “putus asa”, padahal apapun hal- hal yang terjadi dan tidak aku sukai itu yang nantinya malah baik bagiku nanti, astaghfirullah maafkan hamba ya Allah…batinku dalam hati.

Hari- hari kujalani dengan ikhlas, jalan kaki kekampus menjadi alternatifku saat itu. Selain agar sehat karena berolahraga juga biar bisa menghemat, uang Rp 4000,00 bolak balik dapat kutabung agar tak s ering meminta uang pada orang tua. Pernah suatu hari, disaat aku pulang ke rumah ibuku pernah bertanya tentang beasiswa.

Ibu : “ Pie nduk wis ono beasiswa meneh po durung? (Bagaimana sayang, apa sudah ada beasiswa lagi? )” aku hanya bisa terdiam dan menunduk, tak sanggup mata ini tuk menatap wajah ibuku yang begitu mengharapkan hal itu.

Aisyah : “Dereng bu, wingi mpun njajal tapi tesih gagal, mangke nek onten beasiswa malih kulo tak daftar bu (Belum bu, kemarin sudah mencoba daftar tapi gagal lagi, nanti kalau sudah ada info dari kampus akan saya coba lagi”.  

Semenjak itu aku selalu memantau dimana ada lowongan beasiswa, disitu pokoknya aku harus ikut daftar. Hingga pada saat itu aku mendengar salah satu dari temanku bahwa di kampus lagi ada pembukaan Beasiswa Kajian Keislaman, beasiswa bersifat umum dan utk semua jurusan. Meski kuota hanya membutuhkan 30 mahasiswa, sangat kecil pula kemungkinan untuk aku dapatkan, namun kesempatan hanya datang sekali dalam seumur hidup& mencoba adalah hal yang terbaik agar kau mengetahuinya.

 “Alkhamdulullah akhirnya ada beasiswa lagi, pokoknya aku harus mencoba mendaftar. Kali ini insyaAllah aku bisa mendapatkannya, bismillah allahumma sholi ‘ala sayyidina muhammad”, gumamku dalam hati. 

Saat itu juga aku langsung mencari hal- hal serta persyaratan apa saja yang dibutuhkan tuk bisa mendapat beasiswa itu, salah satunya adalah meminta surat domosili dari pondok. Betapa terkejutnya waktu itu, saat salah satu pengurus pondok bicara padaku. 

Pengurus: “Dek, mau buat persyaratan beasiswa ya? (tanyanya sambil menyodorkan kertas kecil agar aku segera menulis nama dan jurusan).

Aqid : Iya, doakan ya mb semoga berhasil, memangnya kenapa?

Pengurus: Aamiin, semoga ini menjadi rezekimu dek. Soalnya ini yang meminta surat domisili juga banyak banget nih”.(sambil memperlihatkan tumpukan kertas yang tertera keterangan SURAT DOMISILI)

Aku terkejut bukan main, hampir kebanyakan santri ikut beasiswa ini dan meminta surat yang sama sepertiku, namun aku tetap tak pantang menyerah dan terus berusaha tuk melengkapi beberapa berkas yang diharapkan. 

Semua berkas aku persiapkan dan kuteliti agar tak ada sedikitpun yang kurang atau terlewatkan, tak lupa juga membuat motivation letter tentang data diriku dan bagaiman kondisi keluargaku saat ini. Untaian kata kurangkai menjadi kalimat hingga akhirnya menghasilkan beberapa macam paragraph yang insyaAllah sudah menjadi motivation letter terbagus menurutku. Kuuploud semua berkas dengan dibantu sobatku yang bernama Aulia, masuk kelink yang tersedia dan kukirimkan dengan mengeklik kata KIRIM…. Finish, Alkhamdulullah. 

Menunggu adalah hal yang membosankan, tetapi menunggu kali ini membuat hatiku berdebar tak sabar tuk melihat pengumuman itu. Aku pernah mendengar motivasi dari Wirda Salamah Ulya Mansur, putri Ustadz Yusuf Mansur dan seorang penghafal Al-Qur’an, pendakwah, pengusaha, sekaligus penulis muda dimana dia pernah mengatakan kata yang membuat hatiku tergugah dan tersadar.

“Perbanyaklah bersholawat, sehari 100 kali atau berapa lah dan sebutin apa saja yang menjadi hajatmu serta berdoalah dan pasrahkan semuanya ke Allah. Niscaya hajatmua akan terkabul”. 

Ya mantra ini yang aku coba, membaca shalawat sebanyak mungkin dan berdoa sehabis shalat. Pasrah pada sang pencipta dan menyerahkan hasil kepadanya. Setidaknya kita mau berusaha, tinggal menunggu semoga doa kita terdengar dan dikabulkan. Karena taka da yang tak mungkin bagi Allah SWT, tinggal bagaimana kita meyakini dan ikhlas lillahi ta’ala.

 Hari yang ditunggu- tunggu akhirnya datang juga, namun masih belum ada pengumuman di siakad ataupun pemberitahuan di Grup Lintas Literasi, grup yang berisi mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab serta semua Dosen BSA. “Ah mungkin bukan hari ini deh pengumumannya deh”, gumamku dalam hati. 

Karena terlalu bingung memikirkan, aku melanjutkan tugasku mengerjakan makalah untuk persentasi besok dan alangkah terkejutnya saat tiba- tiba Anis tetangga kamarku memberi tahu bahwa aku menjadi salah satu mahasiswa yang memperoleh Beasiswa Studi Kajian Keislaman. 

Anis : “Mba udah buka pengumunan beasiswa belum?”. (Tanyanya sambil masih mengutak atik handphonenya).

Aisyah: “Belum dek, emang siapa saja nama- nama yang diterima?” (deg-degan dan takut melihat kenyataan kalau missal tak diterima lagi).

Anis: “Coba bentar, kayaknya tadi ada namanya mba terpapang deh. (Melihat sambil meneliti lagi pengumunan yang ia lihat).

Aisyah: “ Mana nis, coba aku pengin lihat”. (Mendekati Anis sambil berdebar hatiku tak karuan).

Sontak aku merasa kaget dan bersyukur, Antara percaya dan tidak, bagaimana tidak, banyak sekali tidak hanya puluhan yang mendaftar namun ratusan dan Alkhamdulillah aku salah satunya. 

Sinta : “Kenapa, kok kamu nangis?” (Penasaran, dan menatapku dalam).

Aisyah: “Aku bahagia dan terharu banget Sin, aku lolos mendapat beasiswa”. (Akupun jatuh kepelukannya sambil menangis sesenggukan masih tak menyangka).

Sinta : “Alkhamdulillah, ini keberuntunganmu sobat, selamat ya. Allah SWT memang telah menyiampakan hadiah yang terindah untuk hambanya yang selalu sabar dan nggak pantang menyerah sepertimu. (Mengelus- elus pundak, sambil mengusap air mata bahagiaku).

Hari ini adalah hari yang berharga bagiku, mengingat dulu aq pernah menangis karena tak lolos beasiswa dan kini Allah menggantinya dengan lebih baik dari itu.

 “Alkhamdulillah akhirnya aku bisa membeli laptop juga” ucapku menahan haru karena bahagia. 

Dunia seakan memeluk erat tubuhku, mendekap dengan hangat dan mengatakan kamu berhasil Aisyah, menggandeng tanganku menuju jalan memetik impian. Apa yang kuinginkan dulu memang tak bisa aku dapatkan, namun sesuatu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya seolah kini telah berada didepan mataku. Terima kasih pak, bu, kak, dek, telah mendoakanku sehingga bisa sampai dalam tahap ini, alkhamdulillah. 

“Berpikirlah yang positif, lakukan dan jalani semuanya dengan ikhlas, insyaAllah semuanya akan terasa indah”.



Sunday, 19 December 2021

“SAAT NURANI MENGGUGAT”

 Oleh: Putri Nani_IH’20


“kring,,,kring,,,kring,,,”. Bel tanda masuk setelah istirahat kedua berteriak nyaring memberi tanda kepada kami bahwa saat bermain telah usai. Bunyi bel yang persis seperti bunyi bel sepeda yang biasa ku kendarai saat berangkat dan pulang sekolah itu menggerakanku dan beberapa temanku untuk bergegas dan melesat ke kelas kami masing – masing. Ku lihat beberapa teman sekelasku masih ada yang mengunyah tempe gorengnya, ada yang masih menyedot estehnya, dan beberapa yang lain sudah mulai menyiapkan diri menerima pelajaran ke-7 yaitu IPS.

Tak lama kemudian Pak Son guru IPS kami, memasuki kelasku. Teman-temanku yang belum menyelesaikan makanan dan minumannya, secara reflek memasukan jajan dan minumannya ke laci mereka. Pak Son menyapa kami dengan ucapan salam yang langsung di jawab serentak oleh teman-teman di kelasku. Pelajaran pun di mulai. Kami mendengarkan ceramah dari Pak Son kurang lebih selama 60 menit. Menjelang pulang, Pak Son mengumumkan bahwa besok pagi beliau akan mengadakan ulangan harian. Beberapa anak mulai ribut. Astri bertanya, “Materinya dari bab berapa sampai bab berapa Pak?” Pak Son menjawab “Materinya dari bab 1 sampai bab 3 di tambah latihan soal yang ada di buku LKS (Lembar Kerja Siswa), okay?” semua siswa menjawab serentak dengan wajah lesu “Baik, Pak!”. Setelah itu, berapa anak mulai kasak-kusuk sibuk mengeluh tentang banyaknya materi yang harus mereka pelajari nanti malam.

Tiba – tiba saat kelas masih ribut, lagu “Gelang Sipaku Gelang” mulai berkumandang dan menghentikan keributan di kelasku. “Sebelum pulang, mari kita akhiri pelajaran hari ini dengan do’a terlebih dahulu!” perintah Pak Son. Aku segera berkemas, ku masukkan semua peralatan sekolahku ke dalam tas, ku lihat sekelilingku. Tampaknya teman yang lain pun melakukan hal yang serupa denganku. Dalam hitungan beberapa menit, semuanya sudah siap untuk pulang. “Siap, grak. Berdoa mulai!” ujar ketua kelas memberi aba-aba berdoa. Kami pun serentak menundukkan kepala, mengucapkan doa kami masing-masing. “Selesai, memberi salam!” perintah ketua kelas. Kami mengucapkan salam secara serempak. Pak Son membalas salam kami, setelah Pak Son meninggalkan kelas kami, kami langsung menghambur bagai kelereng di lontarkan dari tempat penyimpanannya. Ada yang melesat bagai anak panah di tembakkan dari busurnya, ada yang berjalan biasa-biasa saja sambil ngobrol dengan temannya, ada yang berjalan gontai tanpa semangat.


“Put, pulang bareng yuk!” ajak Sindi sahabat baikku, saat kami mengambil sepeda di tempat parkiran. “Ayuk!” sahutku. Kami mengendarai sepeda bersisian. Kebetulan rumahku dan rumah Sindi satu jalur. 

Sepanjang jalan pulang, aku tak banyak bicara. Pikiranku berkelindan kesana kemari. Aku memikirkan ulangan IPS besok pagi dan memikirkan kedua orang tuaku yang sibuk bertengkar setiap hari. Dalam hati aku berkata, “Dapatkah nanti malam aku belajar dengan tenang?”. Meski pikiranku melayang-layang, aku dapat merasakan bahwa sesekali Sindi melirik ke arahku. Aku yakin dia ingin menanyakan kenapa aku diam saja, apa yang aku pikirkan, dan sebagainya. Tapi, aku sedang tak ingin bicara. Rupanya Sindi dapat memahami situasiku. Dia urung bertanya ini itu.

Setelah 10 menit ku kayuh sepedaku. Aku berpisah jalan dengan Sindi karena aku sudah sampai di rumah. Aku mealambai kepada Sindi yang terus mengayuh sepedanya.

“Assalamu’alaikum” ucapku saat masuk rumah. Aku tidak menyangka salamku di jawab dengan kompak oleh Ayah dan Ibuku yang sedang duduk-duduk di ruang tamu. Dalam hati aku berkata sinis, “Kalian tidak bisa membohongi anakmu ini, Ayah, Ibu. Putri sudah tau yang sebenarnya. Setiap malam kalian selalu bertengkar. Kalian pikir, Putri tidak mendengarkan pertengkaran itu?”

Aku menyembunyikan perasaan sedihku di sudut hatiku yang terdalam. Di hadapan mereka aku selalu mencoba untuk tersenyum. Ku salami keduanya dan kucium tangan keduanya. Tanpa banyak bicara, aku segera menuju ke kamarku untuk berganti pakaian, ambil air wudhu, dan ku temui Tuhanku. Satu – satunya Dzat tempatku bersandar dan berkeluh kesah.

“Tok,,,tok,,,tok,,,” Tiba – tiba pintu kamarku diketuk orang. Aku tahu itu pasti Ibuku. “Masuk Bu, tidak ku kunci!” jawabku. Ku buka mukena putih berenda bunga – bunga yang membalut tubuhku. Ku usap air bening yang keluar dari sudut – sudut mataku. Ibuku membawakan sepiring nasi goreng untukku. “Makan dulu put!” kata Ibuku dengan membaca raut wajahku. “Kamu memangis? Ada apa?” tanya Ibuku. “Apa benar yang dikatakan Ayah semalam Bu?” tanyaku dengan menatap wajah Ibuku. Tak terasa air mata yang sejak tahu sudah ku tahan, kini jebol tak dapat ku kendalikan. Ku lihat Ibuku kaget. “Jadi, kamu sudah tahu Put?” tanya Ibu. “Kenapa Bu? Apa kalian tidak sayang sama Putri? Kenapa kalian tega memtuskan untuk berpisah?” tanyaku dengan tesedu – sedu. Ibu memelukku erat – erat. Aku merasakan bahwa di dalam dadanya juga ada gemuruh yang tak tertahankan. “Itu sudah keputusan Ayahmu, Put. Ibu tidak bisa berbuat apa – apa lagi. Ibu hanya perempuan, Nak. Ibu tak kuasa mencegah Ayahmu untuk tetap berada di sisi Ibu. Maafkan Ibu. Sekarang terserah Putri, Putri mau tinggal bersama Ibu atau Ayah.” jelas Ibuku dengan raut muka yang tak bisa ku gambarkan. Ibu melepaskan pelukkanya dan meninggalkan kamarku. Ku tatap nasi goreng yang di letakkan Ibu di atas meja belajarku. Aku tak berminat menyentuhnya, apalagi memakannya.

***

Malam ini putri menceritakan keluh kesahnya padaku, katanya besok ada ulangan IPS, tapi dia tak bisa belajar dengan tenang. Otaknya kacau sebab memikirkan masalah yang di hadapi kedua orang tuanya. Pikirannya buntu, bagaikan got di depan rumahnya yang tersumbat bermacam – macam sampah. Hatinya keruh, sekeruh air sungai.

Melalui tinta biru yang di goreskan di lembaran-lembaran tubuhku. Putri mencurahkan semua unek-unek yang ada di hatinya. Putri bingung kalau benar kedua orang tuanya hendak bercerai. Putri tidak dapat memilih mau ikut Ayah atau Ibunya. Putri sangat menyayangi keduanya dan tak ingin berpisah dengan mereka. Putri hanya ingin bersama Ayah dan Ibunya. Bukan bersama Ayah atau Ibunya.

“Ya Allah? Bagaimana ini? Aku harus ikut siapa?, sedangkan aku sangat menyayangi mereka. Aku tak ingin berpisah dengan keduanya”. Tulis putri pada lembaran – lembaran tubuhku. Aku ikut sedih, tapi aku tidak dapat membantu apa – apa selain hanya menampung segala keluh kesah yang di rasakan putri. Aku hanya bisa berharap setelah perasaanya di luapkan kepadaku, putri mendapat ketenangan. Tapi, sepertinya aku salah, setelah meluapkan perasaanya, putri langsung meninggalkanku begitu saja tanpa menutupku. Ia langsung naik ke tempat tidurnya dan mulai menangis lagi.

Sepanjang malam yang di lakukan putri hanya menangis dan menangis sampai dia kelelahan dan terlelap. Aku ingin sekali mengingatkan putri agar jangan menangis terus. Ingat put, besok ada ulangan IPS. Tapi, apa dayaku. Aku tak bisa bersuara.

***

“Allahuakbar,,,Allahuakbar” suara adzan dari mushola dekat rumahku membangunkan aku dari tidur nyenyakku. Mataku terasa berat, samar – samar , aku masih ingat bahwa semalaman aku menangis. Tiba – tiba aku tersentak. Hari ini ada ulangan IPS. Bagaimana ini. Aku tidak belajar sama sekali. Segera ku lipat selimutku. Aku bergegas untuk mandi dan mengambil air wudhu kemudian sholat subuh dua rakaat yang tidak dapat ku nikmati sama sekali. Setelah salam, aku buka sebentar catatan IPSku. Caraku belajar pagi ini meloncat – loncat seperti katak. Sebentar ke catatan, sebentar ke LKS, tapi tidak ada yang masuk ke dalam otakku.

Waktu cepat sekali berlalu, tanpa terasa jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul 06.30. ulangan akan di adakan jam pertama pula. Ups! Ya Allah, apa dayaku? Bagaimana ini? Haruskah aku menyontek saja? Masa iya sih, putri yang selalu mendapat peringkat 1 di kelas menyontek? Aku belum pernah menyontek sebelumnya. Tapi, bagaimana ini? Menyontek jelas bukan perbuatan terpuji, curang! Tapi, bagaimana kalau tidak menyontek? Nilaiku bisa tidak tuntas dan aku takut nilaiku tidak mencapai batas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) untuk mapel IPS. Ah… entahlah, yang paling penting sarapan dulu kemudian pancal pedal sepeda. “what,,,will,,,do,,,will,,,do” senandungku menirukan sebuah lagu. Aku berpura – pura riang saja pagi ini agar mood belajarku tidak terganggu.

Aku memasuki gerbang sekolahku pukul tujuh kurang sepuluh menit. Ku hitung ada 10 anak yang masuk gerbang bersamaan waktunya denganku, kami turun dari sepeda kami masing – masing. Ku lihat Bapak Ibu guru sudah menunggu kedatangan kami di pintu gerbang. Kami pun menghampiri dan menyalami Bapak Ibu guru yang ada disitu. “Selamat pagi Bu Ami, Pak Bani?” sapaku sambil mencium punggung tangan mereka. “Pagi” jawab mereka serempak. Dalam hitungan detik aku sudah memarkirkan sepedaku di tempat parkir sepeda di bagian belakang kelasku.

Baru saja ku hempaskan pantatku di kursi belajarku, bel tanda masuk sudah terdengar. Selanjutnya ada suara merdu mengingatkan kami “Saatnya jam pertama di mulai”. Disusul dengan peringatan dalam bahasa inggris. “It’s time to become the first lesson”. Aku tak terlalu pintar dalam bahasa inggris tapi setidaknya itu yang ku dengar dan yang dapat ku ceritakan disini. Pak Son memasuki kelasku. Kehadiran Pak Son membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Seperti biasa ucapan salam Pak Son di jawab serentak oleh seluruh anak di kelasku. Setelah berdoa mengawali kegiatan belajar pagi ini, Pak Son langsung membagikan soal ulangan harian kepada kami. 

“Uh,,,” keluhku sambil membaca soal – soal yang tersaji dihadapanku. Semua temanku ku lihat asyik mengerjakan soal – soal itu. Aku masih seperti orang linglung. Aku mulai membaca situasi tengok kanan, tengok kiri, lihat depan, lihat belakang untuk memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang memperhatikan aku. Dengan tangan gemetar dan jantung yang berdebar – debar. Aku mulai menarik catatan IPSku yang ku letakkan di laci mejaku. Bagaikan seorang pendekar, aku berhasil membabat habis soal demi soal yang menjadi musuh – musuhku hari ini. Akhirnya, semua dapat ku selesaikan dengan benar dalam tempo yang sesingkat – singkatnya. Segera ku masukkan lagi catatan IPSku ke laci mejaku. Tiba – tiba aku dikagetkan oleh sebuah suara “Sudah selesai, put?” itu suara Pak Son. Dengan gagap aku menjawab “Ssssudah, Pak”. Pak Son melanjutkan inspeksinya ke lorong meja yang lain. “Uh, hampir saja,” kataku.

Tina kaget mendengar jawabanku. “Sudah selesai put?” tegasnya tak percaya, aku mengangguk “wah, hebat kamu” ujar Tina. Sekarang jantungku malah mau meloncat, kadang ku rasakan di tempatnya, kadang kurasakan menghilang. Dalam bahasa Ibuku saat ini hatiku sedang “Runtag” aku takut kalau – kalau Tina tahu yang sebenarnya tejadi. Sungguh ini pengalaman pertamaku berbuat curang seperti ini. Ohh,,, Tuhan, apakah yang saat ini ku rasakan tercetak jelas dalam ekspresi wajahku?

***

Lagi – lagi malam ini putri menceritakan keluh kesahnya padaku. Namun, keluhannya kali ini bukan tentang “Aku harus ikut siapa?”. Dia menceritakan perbuatan konyolnya yang dilakukannya hari ini di sekolah. Oh no! Rasanya aku tak percaya. Ini benar – benar konyol. Putri bilang tadi dia nyontek di sekolah. “Tidak ada pilihan lain Di, aku takut nilaiku jeblok. Aku takut nilaiku tidak mencapai KKM, jadi terpaksa aku menyontek Di” katanya padaku melalui tinta biru yang digoreskannya di lembaran – lembaran tubuhku (Putri sering memanggil namaku “Di” meski kadang dia menyebut nama lengkapku “Diary”) “Di, aku tak tenang” lanjutnya.

 Tentu saja aku bisa merasakan apa yang sedang Putri rasakan. Hatinya pasti was – was. Aku ingin menasihatinya agar lain kali jangan nyontek lagi. “Putri, apakah dengan mendapatkan nilai di atas KKM kamu akan senang? Nyatanya tidak kan? Kamu mungkin berpikir bahwa tidak ada satu temanmu pun yang mengetahui perbuatan licikmu itu. Tapi, kamu harus ingat Put, ada dua malaikat yang di tugasi Allah untuk selalu mengawasimu”. Tentu saja Putri tidak bisa mendengar nasihatku. Aku berharap nuraninya memberinya sebuah alarm untuk mengingatkan perbuatan salahnya itu.

***

Benar. Aku tak tenang. Hatiku selalu was – was. Jangan – jangan ada yang melihatku. Harus ku bacakah surah An – Nas untuk menghilangkan was – wasku? Huf, ternyata menyontek itu tidak membuat kita senang. Ternyata berbuat curang itu membuatku gelisah. Ternyata tidak jujur itu membuatku resah. Ya Allah, ampuni aku. Nuraniku mulai memusuhi perbuatan yang tidak terpuji itu. Aku niat akan membuat pengakuan besok pagi kepada Pak Son.

Di sekolah, Pak Son mengumumkan hasil ulangan harian dua hari lalu yang sudah di koreksi. Dengan bangga, Pak Son mengumumkan bahwa aku, putri satu – satunya siswa yang mendapat nila 100 dalam ulangan harian kali ini. Beliau memberi ucapan selamat. Teman – teman sekelasku bertepuk tangan. Entah kenapa aku tidak senang sama sekali. Aku sama sekali tidak bangga. Bahkan tanpa ku sadari butiran – butiran air bening asin mulai meluncur dari sudut – sudut mataku. Semua mengira air mataku air mata bahagia. Bukan kawan, ini air mata rasa malu dan air mata rasa bersalah. Malu aku kepada Al – Alim Yang Maha Mengetahui dan Al – Bashir Yang Maha Melihat.

Saat istirahat pertama, aku menemui Pak Son di ruang guru. Dengan terbata – bata, aku menceritakan tentang sejarah nilai 100 yang kudapatkan dalam ulangan harian dua hari lalu. Pak Son menyimak ceritaku. Beliau tidak marah.

“Bapak senang kamu jujur Put, kamu nanti ikut ulangan perbaikan hari sabtu nanti ya! Persiapkan dirimu!” kata Pak Son. Aku hanya mengangguk. Aku janji kali ini aku akan belajar dengan baik.

***

Ini cerita putri padaku, katanya dia mendapat nilai 100 untuk hasil meyonteknya. Amazing kan?. Tapi, apa hebatnya nila 100 hasil nyontek? Ah…, untung pada akhirnya putri menyadari bahwa perbuatannya itu salah. Dia diberi kesempatan oleh gurunya untuk mengikuti ulangan perbaikan. Katanya dia mendapat nilai 80 dalam ulangan perbaikan itu setelah semalaman belajar habis – habisan.

“Di, ternyata kecurangan tidak akan membuat kita senang, dan akan membuat kita selalu was – was karena terus di kejar bayangan dosa. Dan satu lagi, ternyata kejujuran meski kadang menyakitkan dan memalukan jauh lebih baik daripada curang”.

Aku bahagia melihat putri terus tersenyum saat menggoreskan kalimat hikmah yang dia dapatkan dari pengalamannya hari ini.

Andai bisa kau dengar put. Aku akan mengatakan bahwa kepuasan itu terletak pada usaha. Bukan pada hasil. Berusaha dengan keras adalah kemenangan yang haqiqi. Jangan lupa selalu berdoa pada Allah Yang Maha Kuasa agar kedua orang tuamu rujuk lagi. Kalian bertiga bahagia selamanya. “Kamu dengar apa kataku, Put?”

Ku biarkan lembaran – lembaran tubuhku terbuka. Aku, buku harianmu. Selalu siap menerima dan mendengarkan curhatmu.


TAMAT


Hari Kemerdekaan Yang Tak Lagi Sama

 Oleh: Risma Ariesta_BSA’18


Memasuki awal bulan Agustus pada tahun-tahun sebelumnya, biasanya aku dan tim pasti sedang sibuk mempersiapkan pernak pernik tujuh belasan untuk menghiasi seluruh Desa Tanon. Kerja bhakti massal pun kami gerakkan. Tak ketinggalan, aku juga menghimbau para warga untuk memasang bendera merah putih serentak di tiap-tiap rumah. Saat-saat seperti ini, biasanya yang paling heboh adalah Wakidi. Dia selalu berteriak-teriak seperti mandor pada orang-orang yang memasang umbul-umbul di gapura dan sepanjang jalan masuk Desa Tanon. Katanya, mereka harus hati-hati saat memasangnya, jangan sampai miring, perhatikan arah angin, dan lain sebagainya. Kadang jika Wakidi tidak memperhatikan pekerjaan mereka, ada saja tingkah konyol yang mereka lakukan untuk mengejek Wakidi yang cerewetnya mengalahi ibu-ibu arisan.

Sedangkan Bu Nur bersama ibu-ibu PKK lainnya biasanya tengah meronce hiasan dari daur ulang sampah plastik maupun kertas yang diwarnai merah dan putih untuk dipasang di rumah-rumah warga. Wawan dan para pemuda anggota karang taruna lainnya juga seharusnya sedang sibuk merembug lomba apa yang akan mereka adakan untuk kian memeriahkan peringatan hari kemerdekaan. Sebenarnya ini yang paling ditunggu, karena biasanya partisipan yang ikut tidak hanya dari anak-anak saja, melainkan orang-orang dewasa sampai orang tua pun juga terlibat.

Biasanya, seminggu sebelum hari kemerdekaan tiba, Desa Tanon sudah siap menyambutnya dengan berbagai kemeriahan. Tapi, tahun ini kebiasaan itu berubah. Bahkan jauh-jauh hari sebelum bulan Agustus datang, Desa Tanon dan Lereng Telomoyo kembali sepi. Tak ada wisatawan yang mengantre untuk menikmati sajian wisata di desa. Kegiatan sosial masyarakat pun dibatasi. Sejak pemerintah mengumumkan bahwa nusantara dilanda wabah menular dan mematikan, kami dihimbau untuk tidak keluar rumah kecuali memang memiliki kepentingan yang mendesak. Menjaga kebersihan, cuci tangan setiap waktu, kini menjadi kebiasaa baru yang digembar-gemborkan di mana-mana. Tak hanya nusantara yang berduka, dunia dan seluruh penghuninya pun merasakan hal yang sama.

Padahal, tahun lalu kami dan para pemuda yang tergabung dalam organisasi kepemudaan di Kabupaten Magelang, Kabupaten Semarang, dan Kota salatiga sempat mencatat sejarah baru dengan mengibarkan bendera sepanjang satu kilometer di Lereng Telomoyo. Tidak ada pasang mata yang tak terharu bahkan menangis saat menyaksikan peristiwa itu. Sepanjang jalan menuju gunung Telomoyo dari arah Ngablak, Kabupaten Magelang dikibarkan secara horizontal dan diusung oleh arak-arakan pemuda baik laki-laki maupun perempuan. Kami serempak menyanyikan lagu-lagu nasional yang entah bagaimana bisa sangat menyentuh hati. Mulai dari Indonesia Raya, Satu Nusa Satu Bangsa, Tanah Airku, Indonesia Pusaka, Bagimu Negeri, dan banyak lagi.

Anak-anak tak mau ketinggalan mengkuti arak-arakan kami. Mereka berlarian dengan cerianya. Saling tertawa dan turut membawa bendera kecil dari plastik di tangan mereka. Kedua pipi mereka cemong oleh lukisan bendera merah putih. Ditambah, para anak laki-laki yang mengenakan ikat kepala dari hasduk pramuka. Para warga yang melihat arak-arakan kami turut merekam, beberapa terlihat ikut menyanyi, dan mengusap pipi mereka, karena mungkin sempat menangis haru. Para wartawan juga turut memeriahkan acara ini, sibuk meliput dengan kamera mereka. Lampu blitz di mana-mana, juga desing drone yang terbang tinggi dan rendah di atas kepala kami. Sungguh pengalaman yang akan kukenang seumur hidupku.

Acara Millenial Fest (Me-Fest) itu terselenggara berkat kerja sama organisasi kepemudaan dan tanpa melibatkan pemerintah. Seluruh pendanaan, juga partisipasi murni dari kerja sama kami semuanya. Namun baru sekali kegiatan tersebut terselenggara, tahun ini Me-Fest terpaksa ditiadakan karena keadaan yang tidak memungkinkan.

“Jadi tahun ini nggak ada agustusan, kang?” tanya Agus yang biasa mengurus transportasi para wisatawan.

“Kalau kegiatan yang menimbulkan kerumunan mungkin ditiadakan, ya. Kayak upacara, pawai, lomba-lomba, dan lain-lainnya itu. Hampir semuanya pasti rame-rame, sih. Tapi kita tetap pasang bendera di masing-masing rumah, ya,” jawabku.

Seperti biasa, aku dan tim pemandu wisata desa menari sedang mengadakan rapat bulanan guna evaluasi program dan membahas berbagai persoalan terkait desa. Namun, enam bulan belakangan ini kami hanya pernah melakukannya tiga kali saja, dua bulan sekali. Ini sudah hampir bulan ke-enam dari munculnya himbauan pemerintah agar masyarakat tinggal di rumah saja, yang dimulai sejak bulan Maret lalu. Banyak momen berharga yang kami lewatkan dengan cara-cara baru yang sebelumnya belum pernah kami bayangkan. Seperti halnya sekolah online, momen ramadhan yang sepi karena tarawih di rumah, sholat iedul fitri dan iedul adha yang berjarak, sampai menjadi peserta upacara virtual. 

“Hufft. Kenapa wabah itu harus datang, ya? Buat kacau semua aja,” gerutu Wakidi.

“Setiap sesuatu yang didatangkan semesta untuk kita, pasti ada sisi positif dan negatifnya sendiri. Mungkin sisi negatifnya adalah seluruh kegiatan kita yang hampir sebagian besar kumpul-kumpul itu ditiadakan. Tapi pasti ada sisi positifnya juga. Dengan adanya wabah ini, kita jadi bisa lebih intens berinteraksi dengan keluarga,” kataku berusaha menyemangati para peserta rapat.

Memang tidak dipungkiri banyak orang yang menjadi cemas berlebihan, takut, dan lain sebagainya. Tapi adanya wabah ini aku sungguh belajar tentang kesabaran dan keikhlasan yang selama ini mungkin kulupakan dalam hidup. Setelah Desa Tanon menjadi Desa Menari misalnya. Banyak orang yang mulai megetahui desa ini sebagai desa produktif, mandiri, dan kiblat desa yang sukses mengembangkan potensi yang dimiliki. Mungkin saat itu aku merasa di atas awan karena merasa telah berhasil membuat impianku menjadi nyata, bahkan lebih tinggi lagi. Namun, Tuhan dengan sekejap mengambil gemerlap itu dengan cara mendatangkan wabah ini untuk seluruh dunia.

Awalnya mungkin aku merasa Tuhan tidak adil. Kenapa saat usahaku bersama para warga sedang berada di puncak, dengan kemunculan wabah kecil yang bahkan tak terlihat oleh kasat mata saja bisa menghancur leburkan semuanya. Para pegiat bisnis transportasi kehilangan penumpangnya, perjalanan ke luar negeri atau dalam negeri ditunda, tempat-tempat wisata diminta berhenti sementara, tak terkecuali Desa Menari. Aku merasa terjun bebas ke dasar jurang yang curam dan dalam. Susah payah aku membangun desa ini agar bisa berdaya, tapi semudah itu Tuhan menghancurkannya hanya dengan mendatangkan wabah kecil. Mungkin aku terlalu menyombongkan diri atas pencapaian yang telah kudapatkan selama ini. Padahal, mudah saja bagi Tuhan untuk mengambilnya kembali.

Jika tujuh puluh lima tahun yang lalu bangsa kita bisa merdeka dari penjajahan oleh bangsa lain, maka hari ini kita juga harus bisa merdeka dari jajahan pikiran-pikiran buruk yang berasal dari diri kita. Seperti halnya keputus asaan yang muncul akibat wabah yang belum juga berakhir ini. Percayalah, selama kita berusaha untuk menemukan cara agar tebebas dari wabah ini, terus berdoa kepada Tuhan, maka jika Dia berkehendak untuk mengusaikan wabah ini, pasti akan usai juga. Meski kini kita harus percaya pada ketidak pastian, yakinlah bahwa suatu saat ketidakpastian itu akan menjadi pasti juga jika waktunya tiba.

Merdeka sejak hati, penting kiranya untuk senantiasa ditumbuhkan dalam berbagai suasana. Terutama untuk menghadapi masa-masa sulit dan kondisi yang tak pernah kita bayangkan kala pandemi seperti sekarang ini. Meski perayaan kemerdekaan tak sama seperti tahun-tahun biasanya, tapi aku selalu berusaha menyalakan semangat kemerdekaan yang sama untuk diri sendiri dan juga sesama. Dengan begitu, setidaknya perayaan kemerdekaan tetap menjadi sesuatu yang sakral untuk dirayakan.



Wednesday, 8 May 2019

THE PARADOX PARANOIA (Phase 1 chapter 1)


THE STORY OF HADA (PART 1)



“Anakku! Dimana anakku?!
“Anakku! Tak kunjung juga kau kunjungi ibumu yang telah renta ini.
“Anakku! Kau selalu menceracau mengenai tuhanmu sang cahaya itu. Aku tidak keberatan dengan apa yang kau percayai. Aku hanya ingin kau berada disini dan menemaniku sampai aku tiada. Karena kau lah satu-satunya yang membuatku tetap perkasa, kau lah satu-satunya alasanku kuat menghadapi kerasnya dunia”. Tangan tua nya bergemetar mengangkat kertas bertuliskan puisi yang sedang ia pegang.
“Anakku! Kumohon! Kumohon kembalilah kepadaku! Aku selalu menunggumu kembali. Bagaimanapun keadaanmu.
“Kau pernah bercerita kepadaku mengenai Elyas yang kau sebut sebagai hamba tuhanmu yang paling dia cinta. Kau bilang bahwa dia adalah orang biasa yang bahkan lahir dari rahim bukan siapa-siapa. Hanya anak seorang pemerah susu di desa.
“Kau berkata bahwa Elyas bertemu langsung dengan tuhanmu, namun tuhanmu tidak mengatakan bagaimana seharusnya manusia memanggilnya. Hanya mengajarkan bagaimana harus bersikap ketika hidup di dunia.
“Aku masih sangat ingat kau berkata bahwa memeluk ajaran sang cahaya adalah pilihan, bukan sebuah paksaan. Karena itu kau tak pernah mengajakku untuk memeluk ajaran yang hampir setiap saat kau ceritakan.
“Aku banyak berspekulasi. Memikirkan seluruh kata yang pernah kuucapkan, mungkinkah ada yang membuatmu tak enak hati? Aku takut. Aku takut karena itu kau pergi dan tak mau kembali.
“Nak, maafkan aku”. Air mata membasahi pipi keriputnya yang mulai ranta dimakan usia. “Pukul aku, caci maki aku, lakukan apa pun yang kau mau. Kau perintahkan aku untuk memotong lidah pun aku mampu. Aku hanya ingin kau kembali. Aku hanya ingin kita bersama lagi”. Suara wanita tua itu terputus. Apa yang dibacakannya adalah sebuah kejujuran, sebuah kata hati, sebuah jeritan yang tidak tahu harus dicurahkan kepada siapa.
Setelah lama, dia mulai bisa mengendalikan dirinya. Semua orang yang melihatnya diatas panggung menangis, ikut merasakan kehilangan yang sama. Dia pun membungkukkan badan dan memasukkan puisi yang ia tulis dengan tangannya itu kedalam saku.
Perempuan yang berada pada masa senjanya itu kini menatap orang-orang. “Terimakasih. Aku tidak pernah memiliki tempat untuk menuangkan segala keluh kesahku mengenai masalah ini. Sering sekali aku ingin menyayat pergelangan tanganku dengan pisau. Namun, aku takut. Aku takut Hada kembali dan aku tidak ada disana. Aku takut dia akan semakin membenciku”.
Dia kembali menundukkan dirinya, mencoba menggambarkan lebih jauh rasa terimakasihnya. Kali ini dia mengarahkan pandangannya pada seorang pria berkaus biru muda lengan panjang yang duduk pula dikursi didepannya. “Kepada Tuan Kasya, aku tidak tau lagi apa yang harus aku ucapkan. Berkat kau yang mengenalkan aku pada perkumpulan ini, aku merasa jauh lebih baik karena bisa mengenal lebih banyak orang baru yang perduli padaku. Terimakasih”. Dia pun menuruni panggung tersebut dengan perlahan.
Pria yang dipanggilnya dengan Tuan Kasya membantunya menuruni tangga panggung tersebut, lalu mengantarkannya sampai tempat duduk. Setelah memastikan perempuan itu duduk, dia pun naik keatas panggung. “EmHada, justru kami yang berterimakasih kepada anda karena sudah bersedia menjadi anggota perkumpulan kami. Kami selalu senang memiliki keluarga baru. Kami akan membantu apa pun kebutuhanmu. Kami akan membantu mencari informasi mengenai keberadaan Hada yang sudah hilang sejak sepuluh tahun lalu”.
Semua orang di ruangan itu bertepuk tangan, terharu, dan siap membantu, siapa pun yang menurut mereka telah dicurangi oleh waktu.
***
Wanita itu bernama  Esmeralda. Dia adalah seorang wanita karir pada awalnya. Berkerja hampir tak kenal waktu, bahkan cenderung tak perduli dengan kesehatan tubuh dan kejiwaannya. Tentu saja yang ada dipikirannya adalah bagaimana cara agar dia bisa mendapatkan banyak uang untuk persediaan hidupnya bersama keluarga kecilnya nanti, dia tidak pernah memikirkan hal lain diluar itu. Karena dia tau bagaimana rasanya menjadi begitu kesusahan dimasa kecilnya, dia tak mau anaknya menghadapi masalah yang sama.
Terus bekerja membuatnya tak sadar bahwa sudah hampir tiga puluh tahun dia hidup. Sudah sepuluh tahun dia berkerja tanpa henti untuk mendapatkan semuanya. Sudah waktunya dia mewujudkan keluarga kecil bahagia yang selama ini dia damba-dambakan. Dan dengan sangat kebetulan, ada seorang pria sangat mapan datang kepadanya mengutarakan maksud baik. Pria itu, yang enam tahun lebih muda darinya, melamarnya untuk menjadi pendamping hidup.
Pria ini bernama Areeha. Bisa dikatakan dia adalah orang yang berkedudukan sangat tinggi di perusahaan tempat Esmeralda bekerja. Dia berperawakan biasa, layaknya penduduk Lieve pada umumnya. Berperawakan tidak terlalu tinggi, berbadan sedikit bungkuk, berwajah tirus, berkulit putih kemerah-merahan, dan telinga yang jika dibandingkan dengan telinga penduduk negara lain dapat dikatakan besar.
Namun ada banyak hal lain yang membuat Esmeralda sangat menyukai Areeha. Kebanyakan pria Lieve akan memandang rendah perempuan karena menurut mereka perempuan hanya ras lemah, remah-remah peradaban. Hanya sebagai kesenangan dan wadah keturunan bagi para laki-laki. Tidak lebih. Mereka juga berfikir bahwa perempuan hanya menjadi penghambat laju pertumbuhan ekonomi karena lebih mementingkan perasaan. Itu juga yang membuat mata laki-laki di tempat kerjanya menatap Esmeralda dengan penuh hina. Sepuluh tahun dia berkerja untuk membuktikan bahwa perempuan pun bisa. Namun nyatanya dimanapun sama, hal itu tidak merubah apa-apa.
Areeha, dia orang yang sangat berbeda. Dia tidak pernah menatap Esmeralda dengan tatapan itu, dia melihat Esmeralda sebagai manusia, sebagai manusia yang harus diapresiasi. Sering sekali Areeha menyelamatkan Esmeralda dari keadaan canggung yang terjadi ketika para laki-laki ditempat kerjanya mulai menatapnya dengan tatapan merendahkan, itu saja sudah membuat Esmeralda tergila-gila. Namun, Esmeralda mampu menggunakan logikanya. Dia sadar bahwa jika dibandingkan dengan Areeha, dia bukanlah siapa-siapa. Tidak mungkin Areeha akan meliriknya.
Dan ternyata itu terjadi. Suatu sore, ketika Esmeralda hendak pulang ke kediaman sederhananya, Areeha menghampirinya dan meminta izin untuk mengantarkannya pulang. Esmeralda bingung dan senang diwaktu yang sama. Tanpa pikir panjang, dia mengiyakan permintaan izin tersebut. Mana mungkin kesempatan datang dua kali. Dan mereka pun menaiki mobil pribadi milik Areeha, dengan supir pribadinya tentu saja.
Mereka berdua duduk dikursi penumpang.
Menit-menit awal dihiasi dengan hening. Suasana canggung begitu kentara. Samar-samar Esmeralda dapat merasakan bahwa Areeha sedang bergemetar. Lalu dengan terbata-bata, Areeha mulai bertanya mengenai pekerjaan, dan malangnya, bagi Areeha tentu saja, ketika Esmeralda telah menjawab pertanyaan tersebut, otaknya sudah tidak bisa memproses kata atau pun memikirkan tema obrolan apapun.
“Esmeralda, mau kah kau menjadi istriku?”. Tanyanya masih dengan terbata-bata, juga tangan gemetarnya yang serta-merta mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dari saku celana. Sebuah cincin pernikahan terbuat dari emas bercampur berlian terlihat disana ketika kotak itu dibuka.
Esmeralda tidak dapat berkata, lidahnya seketika kelu. Yang bisa ia lakukan hanya menutup mulut, mencoba menahan entah suara macam apa yang akan keluar dari sana jika dia tidak menutupnya. Air mata mengalir begitu saja dari kedua matanya yang sayu karena lelah. Badan nya bergemetar menahan sebuah kebahagiaan yang teramat sangat.
Cukup lama sampai akhirnya Esmeralda menganggukkan kepalanya. Dia setuju. Tidak, dia bukan hanya setuju. Dia bahkan sangat bahagia. Dan akhirnya, mereka pun menikah, tepat tiga hari setelah kejadian tersebut.
Tiga tahun lamanya sudah mereka menjalani kehidupan pernikahan. Areeha meminta istrinya untuk berhenti berkerja, dia tidak mau pujaan hatinya itu kelelahan. Bahkan untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah, Areeha memperkerjakan seorang wanita lain. Dia sangat sayang pada Esmeralda. Satu hal yang paling diinginkan oleh Areeha kala itu adalah keturunan. Dia sangat ingin memiliki anak yang  dapat melengkapi keluarga bahagianya itu.
Namun dia tidak sekalipun mendesak Esmeralda. Dia tetap sabar dan berusaha untuk membuat Esmeralda hamil. Mulai dari penambahan intensitas bercinta mereka, sampai memakan makanan yang dipercaya dapat “mempersubur” reproduksi, semuanya. Bahkan sudah beberapa kali mereka mengkonsultasikan hal itu pada dokter kandungan yang menjadi kepercayaan keluarganya.
Dari beberapa kali konsultasi dan pemeriksaan, ada indikasi bahwa Esmeralda adalah seorang wanita yang sulit memiliki anak. Kabar ini dengan cepat sampai ke telinga keluarga besar Areeha. Tentu saja mereka ingin Areeha memiliki keturunan, dan memaksanya untuk mencari wanita lain.
Esmeralda dirundung kesedihan. Dia mengurung diri dikamar dan tidak membiarkan Areeha masuk. Akhirnya Areeha juga merasa sedih, dia tidak pergi ke tempat kerja, hanya menunggu didepan pintu kamar. Dia tidak mau istrinya menanggung semua kesedihan itu sendiri. Dia tidak lagi perduli dengan keturunan. Persetan! Dia hanya takut terjadi sesuatu pada istri tercintanya.
Setelah tiga hari tanpa akses dunia luar, Esmeralda akhirnya membuka pintu, dengan wajah yang sangat pucat dan mata yang sangat sembap. Bagaimana tidak, tiga hari itu tanpa makanan sama sekali, mungkin saja hanya menangis yang dia lakukan didalam sana. Saat pintu terbuka, tubuhnya terjatuh. Areeha dengan sigap menangkap istrinya, langsung menggendong Esmeralda menuju mobil dan membawanya kerumah sakit.
Dengan sangat sabar Areeha menjaganya sepanjang hari, bahkan sepanjang malam. Dia mulai terlihat seperti orang sakit. Namun dia tetap tidak perduli. Dia hanya ingin melihat pujaan hatinya siuman. Setalah dua hari, Esmeralda membuka matanya.
Yang pertama kali Esmeralda katakan ketika melihat Areeha adalah “Cintaku, jika kau masih cinta kepadaku, tinggalkan aku. Carilah perempuan yang mampu memberikan keturunan bagimu. Aku tidak mau kau mengecewakan kedua orang tuamu, cukup lah mereka kecewa padaku. Dengan senang hati aku akan pergi dan tidak mengganggumu lagi”.   
“Esmeralda, cintaku. Tolong dengarkan”. Kedua tangannya menggenggam kedua tangan Esmeralda. “Kau akan selalu menjadi satu-satunya. Aku tidak mau. Aku tidak akan menerima siapapun lagi. Persetan dengan apa yang dikatakan oleh ayah dan ibuku. Toh mereka hanya membesarkanku sebagai penghasil uang. Bukan sebagai anak. Untuk apa aku harus perduli. Yang aku mau bukan keturunan. Yang aku mau hanya menua bersamamu. Tolong mengertilah, aku benar-benar tidak mau hidup tanpa dirimu”.
Air mata kembali membasahi pipi Esmeralda. Lelaki yang sekarang menjadi suaminya ini benar-benar sebuah anugerah. Dia sangat yakin jika Areeha bukanlah sebuah kebetulan. Dia yakin ada seseorang yang mengaturnya. Namun siapa? Ini semua terlalu indah jika orang biasa yang mengaturnya, yang artinya orang itu begitu berkuasa. Ah, dia tidak perduli. Ia hanya ingin menua bersama suaminya sekarang.  
Dia menutup kedua matanya dan menggenggam balik kedua tangan Areeha dengan kuat. Areeha mengecup dalam tangan istrinya, lalu mengecup keningnya penuh cinta. Tanpa terasa, lelaki yang sangat mencintai istrinya itu ikut menitikkan air mata. Dan air mata tersebut jatuh dikening sang wanita.
“Esmeralda, belahan jiwaku, satu-satunya cintaku, tolong dengarkan sumpahku pada sang waktu. Aku, Areeha putra Lieve, akan selalu berada disisi mu sepanjang nafas mengikat nyawa, sepanjang cinta menyimpul jiwa, sepanjang senang sulit yang datang melanda, dan sepanjang kala berkasih pada kita dengan kata usia”.
***
Beberapa hari sudah Esmeralda melalui masa-masa kritisnya. Dengan sangat sabarnya Areeha terus menjaga dan merawatnya. Banyak sekali yang telah terjadi, namun Areeha tidak mau menambahkan beban pikiran istrinya. Ia hanya mau mereka bisa secepatnya pulang menuju rumah kecil mereka, melanjutkan kebahagiaan mereka yang tertunda. Dan, sekarang lah waktunya.
“Suamiku, belahan jiwaku, ah, rasanya aku sampai tidak tahu bagaimana harus mengucapkannya. Aku, aku sangat berterimakasih kepadamu. Rasanya apa yang kau lakukan untukku selama ini sangat besar, aku tidak tahu harus bagaimana membalas semua”. Kata Esmeralda ketika mereka sedang dalam perjalanan kembali menuju kediaman mereka.
Mata Areeha masih fokus pada jalan raya yang lumayan lengang malam itu. Tangan kiri nya menggenggam tanga kanan Esmeralda yang duduk di kursi penumpang sebelahnya. Dengan sangat lembut dia meremas tangan istri tercintanya itu. “Dengarkan ini rembulan bagi duniaku yang amat gelap, aku tak perduli pada apapun yang terjadi padaku. Aku hanya ingin kau selalu berada disisiku. Walaupun orang mengancam akan menghapus namaku dari daftar pewaris perusahaan, walaupun orang mengancam akan mengambil semua harta bendaku, walaupun dunia mengancam dengan berbagai cara pun, aku akan tetap memilihmu. Aku sudah sangat muak dengan dunia. Bahkan aku berencana mengajakmu pergi jauh dari kota, bahkan dari Lieve bila perlu. Ada sesuatu yang sangat salah disini, yang anehnya tidak bisa disadari oleh orang-orang.
“Rasanya hari-hariku mengumpulkan uang sangat hampa. Orang tuaku terus mendesakku untuk terus melanjutkan pekerjaanku, karena menurut mereka, aku adalah aset yang sangat berharga, aku sangat cakap dalam mengatur segalanya. Mau tidak mau aku harus menjalankan apa yang mereka perintahkan, dan aku menjalankan semua layaknya robot. Mengulangi pekerjaan yang sama berulang-ulang. Namun semua berubah ketika kau mulai berkerja di perusahaan. Entah mengapa, ada sesuatu yang menarik perhatianku darimu.
“Pada titik itu aku merasa bahwa aku mulai terobsesi padamu. Aku sangat sadar bahwa obsesi yang berlebihan pada seseorang itu tidak baik. Dan akhirnya aku mencoba untuk mengalihkan pandanganku darimu. Tidak. Aku tidak bisa. Semakin kualihkan perhatianku darimu, semakin aku sadar bahwa rasa yang kurasakan bukanlah obsesi. Ini cinta. Ya, hampir selama tujuh tahun kupendam rasa ini.
“Dan di hari kau katakan kau menerimaku sebagai suamimu, rasa sangat bahagia membanjiri dadaku. Aku merasa bahwa aku tidak membutuhkan apapun lagi. Uang, sudah banyak yang kumiliki, anak, aku tidak perduli, relasi, ah, rasanya mereka pun hanya perduli pada uang yang kumiliki. Aku hanya perduli padamu, kebahagiaanmu, kesenanganmu, kesehatanmu, semua itu prioritasku sekarang”. Dia mengangkat tangan kanan istrinya dan mengecupnya dalam.
Esmeralda menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya. “Terimakasih pangeranku. Aku tak tahu bagaimana membalas semua yang kau lakukan untukku. Bahkan rasanya kata terimakasih pun tidak cukup kuucapkan seribu kali padamu. Rasanya aku manusia paling beruntung di dunia ini. Jika tuhan yang sering dikatakan para believer itu benar ada dan merencanakan semua ini untukku, aku akan menjadi bagian dari mereka”.
Agaknya Areeha sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan Esmeralda. Dia terdiam beberapa saat, lalu menarik nafas panjang. “Agaknya aku pun akan melakukan hal yang sama”.
Esmeralda tidak menyangka suaminya akan menjawab seperti itu. seketika itu dia menatap dalam mata suaminya. Ada sebuah bahasa yang tidak dapat dijelaskan pada tatapannya itu.
Areeha sadar bahwa istri tercintanya sedang menatapnya. Dia memelankan laju mobil yang sedang melaju pada jalan yang sepi itu, lalu menatap balik mata istrinya dalam. Saat itu mereka berdua sedang melakukan sebuah percakapan yang hanya dapat dimengerti oleh manusia-manusia yang sedang dimabuk cinta.
Lalu muncul sebuah rasa yang sangat Areeha kenali dalam dirinya. Dia mengarahkan mobilnya menuju tepi jalan, matanya tetap menatap dalam, bahkan semakin dalam, bahasa antara mereka melaju semakin jauh.
Mobil yang mereka tumpangi sudah berada di tepi jalan. Areeha mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya perlahan, lalu tangan kanannya mulai membelai wajah wanita yang menjadi cinta dalam diamnya hampir selama tujuh tahun itu. Dengan penuh cinta Esmeralda menutup mata, bahasa yang sedang mereka gunakan merambat naik menuju jenjang yang lebih jauh.
Bibir mereka bertemu. Agaknya apa yang dirasakan Areeha sudah membubung melewati ubun-ubunnya, detik demi detik menjadikan mereka terbakar lebih panas lagi, semakin memburu.
Tangan kanan Areeha dengan seketika menjelajahi dashbord mobil itu, mencari sebuah tombol. Dengan cepat dia dapat menemukannya. Ketika tombol itu telah dia tekan, kaca hitam pekat pelapis kaca mobilnya turun, dan siapapun yang melintasi jalan tersebut tidak dapat melihat apa yang terjadi di dalam sana.
Ya, mereka hanya mampu melihat mobil yang berhenti di bahu jalan itu bergerak-gerak dengan anehnya.


Bersambung



IbnuZayn      

Sunday, 21 April 2019

THE PARADOX PARANOIA (Beginning)


“Ada kata terakhir yang ingin kau ucapkan?”. Dia menyeringai. Tangan kirinya mengeluarkan sebuah kain dari kantung seragamnya yang berwarna putih. Ia mulai membersihkan sebuah belati tumpul tidak terlalu besar yang berada di tangan kanannya. Belati itu hampir terlihat berubah merah, bagai darah yang bersimbah.
Orang yang ditanya itu tersenyum. Ia adalah seorang pria dikisaran usia dua puluh sampai dua puluh lima, berperawakan tidak terlalu tinggi, bermata sipit, wajah nyaris tirus, dan telinga yang sedikit besar. Tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang sedang mengelilinginya dengan tatapan brutal saat itu. Ia didudukkan pada sebuah kursi kayu berlengan. Kedua tangan dan kakinya diikat pada lengan dan kaki-kaki kursi. Membuatnya tak dapat bergerak kemana-mana. Sekujur tubuh telanjang dadanya dipenuhi oleh luka. Entah itu sayatan tak berperikemanusiaan, lebam karena pukulan, kuku-kuku yang tercerabut dari buku-bukunya, yang membuatnya tak serupa lagi, semua ia dapatkan sepanjang dijadikan tahanan.
Pada sisi-sisi bibirnya darah menetes secara perlahan namun pasti. wajahnya yang dahulu tampan sekarang sudah tidak terlihat seperti wajah lagi, tertutupi oleh lebam, bengkak, dan memar keunguan. Mata sipitnya bahkan sulit untuk terbuka. Dengan getar tubuh yang pasrah, dan tenaga yang sudah lama musnah, dia masih mampu mengeluarkan sebuah senyuman tulus, yang  membuat beberapa orang itu menatapnya semakin ketus. Sebagian mereka berfikir bahwa pria ini sudah gila dan lebih cocok dimasukkan ke rumah sakit jiwa.
  Pria yang didudukkan dikursi itu terbatuk, tersedak oleh darah yang keluar dari mulutnya sendiri. Beberapa tetes darah tersebut jatuh ke lantai, menyusul darah-darah lain yang telah mengering jauh sebelumnya. Ia tertawa perlahan, bukan ejekan, apalagi meminta belas kasihan. Lebih seperti orang tertawa karena bahagia mendapatkan sesuatu yang telah ditunggu sepanjang hidupnya. Sangat bahagia, dengan senyuman tulus yang akan sangat sulit dilupa. “Janji sang cahaya... yang diucapkan sang... penyebar cahaya... kepada kami, adalah janji yang benar, sang cahaya pun bukan... zat... yang ingkar...”. Mata pria itu menengadah ke langit, berbinar, berlinangan air mata. Kata-katanya sontak berhenti begitu saja. Orang-orang yang berada disana terdiam. Merasakan segala indra mereka mulai bungkam.
Setelah beberapa lama, ia mulai membuka mulutnya. Terisak-isak. Kebahagiaannya tumpah ruah. Seisi ruangan mulai ketakutan, kecuali satu orang, si pemegang belati. Dia melihat ke arah orang-orang yang mengitarinya. “Kalian, Sang Cahaya mengirimkan Elyas, hambanya yang paling setia untuk menjeputku. Beliau mengirimkan salam kepada kalian”. Omongan pria itu tiba-tiba tidak terbata-bata, walaupun masih dengan air mata yang terus mengalir, ia menyampaikan kalimat-kalimatnya secara berapi-api. Bagaikan menyampaikan nubuat langsung dari Sang Cahaya itu sendiri. “Masih ada waktu. Beliau telah mengirimkan anak-anak terbaiknya pada pintu-pintu hati kalian. Bukalah! Terimalah dia. Dan kalian akan segera mengetahui kebahagiaan macam apa yang sedang aku rasa. Dia akan selalu mendatangi kalian kapan pun kalian bersedia”.
Pria pemegang belati itu menarik dagu pria tersebut dari belakang dengan tangan kirinya, lalu mendekatkan wajahnya pada telinga kanannya. Ia berkata dengan parau, mencoba mengintimidasi. “Cukup bicara mengenai tuhan hayalanmu. Panggil cahaya itu. Katakan padanya aku menunggu. Katakan padanya bahwa dia berhutang padaku seorang ibu. Jika memang kau berhasil bertemu dengannya setelah itu, akan kulakukan padanya apa yang sekarang akan kulakukan padamu”. Belati tumpul ditangan kanannya mulai menggorak leher pria tersebut. Secara perlahan.
Pria itu hampir tidak berteriak sama sekali. Hanya sebuah kalimat yang dikatakannya berulang kali. “Tuhan, aku pulang” dia terdengar bahagia sekali. Orang-orang mulai bergidik. Sangat kontras dengan suara gesekan yang amat kasar antara belati tumpul dengan kulit dan daging. Juga ucapan pria yang digorok seperti domba yang mulai hilang suaranya, menyisakan senyuman disana. raganya telah mati, namun jiwanya menatap Elyas dan dibawa pergi. semua digantikan oleh suara ngilu yang timbul dari bilah belati tumpul yang beradu dengan rawan tulang belakang.
Darah memancar dari rongga leher yang  masih terus dikoyak, menggenangi bagian-bagian dari ruangan gelap yang semakin tidak layak. Orang-orang itu melihat bagaimana seorang pria plontos pimpinan mereka terus berusaha memutuskan kepala dari tempatnya, dengan amarah yang membara dengan sangat kentara. Tak perduli pada cairan merah yang membanjiri seragam putihnya, yang penuh dengan lencana tanda jasa yang entah didapatkan dengan cara apa.
Ruangan tersebut hening. Hanya ada suara gesekan belati dengan daging-daging yang dimotori oleh kesumat yang amat sangat. Leher itu hampir tuntas, saat orang-orang mulai menyadari bahwa ada yang tidak selaras. Darah identik dengan aroma amis, namun yang mereka dapati adalah aroma harum asing, yang membuat orang-orang semakin merinding. Beberapa orang jatuh pingsan, tak kuasa menahan anomali yang semakin membingungkan. Sebagian tetap berdiri, dengan kaki yang bergemetar dan hati yang terus meneriaki harga diri untuk mulai berbalik dan pergi berlari dari tempat ini.   
 Diangkatnya kepala itu tinggi-tinggi, disertai rasa bangga sekaligus benci yang dikontribusikan oleh hati yang mungkin sudah lama mati. Dia berkata “Kalian, kalian adalah saksi. Believer adalah kumpulan manusia gila yang tak pantas mendiami dunia. Mereka kumpulan orang sakit jiwa yang percaya bahwa tuhan ada dan berwujudkan cahaya. Bahwa mereka jasad-jasad hina yang rela melakukan segalanya untuk menyingkirkan kita. Jika kalian bertanya mengapa, akan kujawab. Karena kita berbeda. Karena kita adalah manusia tersesat, bahan bakar alam siksa imajiner mereka yang disebut neraka. Kita harus melawan, sebelum kita habis tak bersisa”.
Pria itu lalu menatap orang-orangnya satu-persatu. Ia menurunkan kepala yang baru saja dia angkat dan menginjaknya dengan satu kaki. “Aku tidak akan bisa melakukan semuanya sendiri. Aku membutuhkan kalian semua untuk melindungi kita dan masa depan keturunan kita, aku membutuhkan kalian untuk menyuarakan ini kepada dunia, aku membutuhkan kalian untuk merubah tatanan dunia yang sudah mereka rubah seenaknya, dan aku membutuhkan kalian, manusia yang menjunjung tinggi logika diatas segalanya”.
“Orang ini, orang ini hanya permulaan. Entah kejutan seperti apa yang sedang menanti kita didepan”.


Bersambung


(IbnuZayn)

Kegiatan Rutin Khotmil Qur'an Di Lingkungan Kampus 2 UIN Salatiga

Salatiga- Selasa pagi, tanggal 25 Febuari 2025, Masjid At-Thoyyar yang terletak di kampus 2 UIN Salatiga ramai dengan antusias mahasiswa un...